ASAL USUL DUSUN WONOAYU & KEDAWUNG
(Sejarah asal usul dusun Wonoayu. Sumber: Ilustrasi pribadi)Senjakala Majapahit runtuh (1478 Masehi) akibat pembakaran kotaraja Trowulan oleh pasukan Keling pimpinan Ranawijaya Daha Kediri, menyisakan riak-riak perubahan di berbagai tempat di tanah Jawa. Saat eksodus pengungsi dan pelarian dari beragam kalangan dan kasta, bersamaan para tokoh babad alas mulai meluaskan pengaruh mandala Demak ke pedalaman selatan Wengker---yang kini kita kenal sebagai Pacitan---sejarah baru mulai ditulis.
Setelah babat Alas Rejoso berhasil dituntaskan oleh Ki Ageng Petung atas restu Betoro Katong sang Adipati Ponorogo, Syeh Maulana Maghribi diutus dari Demak menuju bumi Pacitan. Di sanalah beliau mendirikan Pesantren Duduhan, sebuah mercusuar iman di tengah lebatnya rimba selatan.
Inilah masa keemasan yang gilang-gemilang di tanah duduh. Menata rimba menjadi berkah.
Masa tatkala rimba raya mulai disibak, persawahan subur mulai dicetak, aliran sungai-sungai jernih mulai diberi nama, dan jalan setapak mulai dirajut membelah bukit pegunungan. Di bawah naungan atap kajang yang bersahaja, anak-anak mulai berkumpul dengan takzim untuk mengeja kitab suci. Sanak keluarga yang dahulu mendekam dalam ketakutan di pekatnya gunung kini mulai berani turun melintasi lembah, membangun pedukuhan-pedukuhan baru yang dipenuhi harapan hidup yang lebih baik.
Tidak ada alasan bagi mereka untuk berselisih paham atau bertengkar. Perlahan, para penjaga hutan yang dahulu berpindah-pindah kini mulai belajar menetap, menata pekarangan, dan membangun keluarga yang kukuh.
Suatu pagi yang bening, embun masih menggelantung di pucuk daun ketika Kyai Lebirah, seorang sesepuh dari kaum Wong Kalang, berjalan tergesa menuju pelataran bangunan suci Duduhan. Di kedua tangannya, ia memikul keranjang anyaman bambu yang penuh berisi buah-buah liar yang ranum. Buah-buah itu diletakkan di hadapan Syeh Maulana Maghribi dan para santri yang tengah bersiap memulai hari.
"Dari mana kau dapatkan buah seindah ini, Lebirah?" tanya Syeh Maulana Maghribi. Jemarinya memegang sebutir buah berwarna kuning keemasan yang menebarkan aroma harum yang memikat.
"Ampun, Kyai Guru," jawab Kyai Lebirah sembari tersenyum lebar. "Silakan ikut hamba. Patok pemukiman sudah saya tancapkan di sebelah barat, tetapi mungkin ada pertimbangan lain dari panjenengan."
Maka berjalanlah para santri mengiringi Syeh Maulana Maghribi dan Kyai Lebirah ke arah barat pesantren. Mereka membawa keranjang, sabit, parang, and kelewang untuk berjaga-jaga.
Para santri yang bertugas merintis semak belukar di perbatasan mendadak tertegun saat menyibak jalinan semak liar. Mereka tidak menemui duri tajam atau tanaman beracun yang biasanya menjalar di hutan perawan, melainkan hamparan pohon ketela tahun yang umbinya sangat besar, pohon jambu yang berbuah lebat, serta aneka tanaman pangan lain yang tumbuh berjajar rapi.
Syeh Maulana Maghribi bangkit berjalan, menatap tanaman di hadapannya dengan pandangan heran. "Tanaman-tanaman ini tidak mungkin tumbuh secara liar di tengah semak, Lebirah. Barisannya terlalu lurus, jaraknya terlalu teratur. Siapa yang menanamnya?"
Kyai Lebirah mengangguk takzim, membenarkan dugaan sang guru. "Benar sekali, Kyai Guru. Itulah warisan rahasia dari kaum kami, Wong Kalang, saat masih menguasai kedalaman hutan ini. Mari hamba hantarkan untuk melihat langsung bagaimana tatanan rimba ini dibentuk."
Mereka kembali berjalan berdampingan, diikuti para cantrik yang membersihkan sisa-sisa ranting mati. Langkah kaki rombongan itu masuk ke kawasan yang dipenuhi barisan pohon kedawung yang menjulang tinggi. Dahan-dahannya yang rimbun menyaring sinar matahari menjadi pendaran cahaya hijau yang menyejukkan batin.
Melihat kerapian pohon-pohon kedawung tersebut, beberapa santri bersiap mengayunkan parang demi melapangkan tanah tapak pemukiman. Namun, Syeh Maulana Maghribi segera mengangkat tangannya, mencegah gerak para cantrik.
"Jangan ditebang!" pencegah sang Syeh. "Biarkan pohon-pohon kedawung ini tetap tegak berdiri. Cukup babat semak belukar di bawahnya. Kawasan ini akan kita tata dengan rapi dan kita resmikan menjadi Kebon Kedawung. Biarkan ia menjadi kebun obat yang dilindungi untuk mengobati siapa saja yang membutuhkan di bumi perdikan ini."
Kyai Lebirah tersenyum haru. Rasa hormatnya kepada sang Guru semakin menghujam dalam di dadanya. Ia melihat bagaimana kearifan kuno kaumnya kini diadopsi dengan penuh penghormatan, bukan dimusnahkan atas nama pembukaan lahan baru. Sang Guru bahkan memerintahkan para santri untuk mencari tunas-tunas baru yang serupa untuk ditanam kembali dengan rapi di sekitarnya.
"Sungguh sebuah aturan hidup yang rapi," puji sang Syeh.
"Benar, Kyai Guru," lanjut Kyai Lebirah. "Bahkan jika panjenengan melayangkan pandangan ke sebelah timur yang sangat luas itu, di sana terbentang area pohon jati raksasa yang kami sebut Jati Wetan. Sementara di sebelah barat, membentang pula Jati Kulon. Di sana tumbuh pohon-pohon jati kuno yang usianya sangat tua. Batang-batangnya sangat lurus dan kuat, sangat tepat untuk kita tebang secara terhormat guna mendirikan tiang soko guru pendopo pertemuan, memperkuat masjid perdikan, serta memperluas asrama santri."
Syeh Maulana Maghribi tersenyum hangat. "Ketulusanmu melapangkan dadaku, Lebirah. Bumi selatan ini rupanya telah menyiapkan segalanya untuk kita. Pantas namamu Lebirah---Lebih dan Turah. Ternyata Gusti Allah mencukupi kebutuhan pesantren dengan turah (berlebih) melalui dirimu."
"Apa ini kebetulan, Kyai Guru?" tanya Lebirah pelan, seolah menyimpan sebuah rahasia.
"Bukan, Gusti Allah menciptakan tak ada yang kebetulan. Sesungguhnya semua ini adalah rencana-Nya."
Percakapan itu mempertebal rasa iman di dada keduanya. Rombongan terus bergerak ke arah barat sesuai rencana semula. Di sana, semak belukar mulai dirapikan, digulung, lalu dibakar dengan hati-hati agar abunya kembali menyuburkan tanah kebonan.
Saat gulungan belukar terakhir berhasil disingkirkan, pandangan mereka tertumbuk pada sekelompok tanaman rendah yang dipenuhi buah bulat ranum berwarna kuning murni yang mengilap ditiup angin. Rasa manis yang segar menyeruak saat dahan-dahannya bergoyang.
"Jan, ayu-ayu..." gumam Syeh Maulana Maghribi spontan, mengagumi keindahan buah kuning yang elok tersebut. Beliau melangkah maju, memetik lalu mencicipinya. Rasa manis yang khas langsung membasahi kerongkongannya, seketika mengusir penat perjalanan.
Kyai Lebirah dan para santri yang mendengar gumaman itu bersorak. "Kyai Guru menyebutnya 'ayu'! Sungguh ini adalah tanda yang baik bagi kita semua," seru Kyai Lebirah. "Maka, mari kita sepakati bersama bahwa hutan semak penuh buah manis yang elok ini kita namakan Wonoayu!"
Syeh Maulana Maghribi tersenyum lebar menyetujui nama tersebut. Kawasan di sebelah barat Pesantren Duduhan resmi menjadi pemukiman baru bernama Wonoayu.
BUAH MUNDU WONOAYU
Ketika para santri mulai sibuk menandai pohon-pohon buah kuning (yang kelak dikenal sebagai buah Mundu) untuk dipindahkan sebagian ke pekarangan pesantren, Kyai Lebirah menyentuh lembut lengan Syeh Maulana Maghribi. Ia mengisyaratkan sang guru untuk mengikutinya naik ke atas bukit kecil di batas barat Wonoayu.
Dari ketinggian gundukan bukit itu, Syeh Maulana Maghribi memandang ke bawah. Seketika, pandangan beliau terkunci. Matanya melebar penuh rasa takjub.
Dari atas sini, batas-batas alam yang baru saja mereka lalui terlihat sangat jelas. Kebon Kedawung di sisi timur, barisan kokoh Jati Wetan dan Jati Kulon, serta hamparan Wonoayu di sisi barat ternyata tidak tumbuh acak. Pohon-pohon itu melengkung, mengitari Pesantren Duduhan yang berada tepat di tengahnya.
Itu bukan sekadar kebun buah biasa, melainkan sebuah sabuk pertahanan pangan yang agung.
"Lebirah..." bisik Syeh Maulana Maghribi, suaranya bergetar khusyuk. "Ini semua... adalah pagar pangan untuk halaman kita."
Kyai Lebirah mengangguk takzim, lalu berlutut di tanah. "Benar, Kyai Guru. Inilah persembahan rahasia dari leluhur kaum kami, Wong Kalang. Kami tahu, kelak para cantrik yang menimba ilmu di Duduhan ini adalah para Santri Swatani---jiwa-jiwa mulia yang mengaji dan membaca kitab suci di waktu malam, namun harus turun bertani duduh, mencangkul sawah, dan menanam pangan di waktu siang tanpa kenal lelah."
Lebirah menatap wajah sang Syeh dengan mata berkaca-gaca. "Kami tidak ingin para santri swatani itu kelaparan atau kehabisan tenaga. Kami sengaja menanam pagar pangan hidup ini puluhan tahun lalu, agar bumi Duduhan langsung menyuguhkan buah-buahan segar yang melimpah dan murah tanpa mereka harus bersusah payah membelinya. Dengan begitu, mereka bisa mandiri, berkecukupan pangan, dan betah tinggal di bumi selatan ini."
Mendengar penuturan itu, Syeh Maulana Maghribi tertegun dalam keharuan yang mendalam. Beliau menyadari bahwa dakwah di tanah Jawa tidak sedang menaklukkan hutan sunyi yang liar, melainkan sedang dipeluk erat oleh ketulusan budi para penjaga bumi.
Kini terjawab sudah rahasia besar di balik ketangguhan para santri swatani Duduhan. Meski siang hari mereka memeras keringat di ladang berlumpur dan malamnya terjaga untuk beribadah, kekuatan fisik mereka luar biasa dan hampir tidak pernah terserang penyakit.
Bahkan, masyarakat sekitar kerap tertegun melihat rupa para santriwati Duduhan yang elok rupawan. Selain karena pancaran air wudhu yang tak pernah putus membasahi wajah mereka, kulit mereka terkenal sangat halus, bersih, dan tampak segar bercahaya layaknya kulit buah mundu yang ranum. Keindahan paras lahiriah yang bersih ini dipercaya kuat sebagai berkah karena mereka gemar mengonsumsi buah munduan yang melimpah ruah tersebut. Ayu Tenan!
Ternyata, rahasianya ada pada buah kuning elok yang melimpah di batas barat itu: Buah Mundu. Buah ini kaya akan penawar racun tubuh (antioksidan) dan sari penyegar raga (vitamin C) yang sangat tinggi. Khasiat alaminya terbukti ampuh sebagai penurun panas demam sekaligus pereda pembengkakan dan radang (antiinflamasi) bagi para santri yang kelelahan bekerja.
Syeh Maulana Maghribi memeluk bahu Kyai Lebirah dengan rasa persaudaraan yang erat. Sejarah mencatat, Wonoayu bukan sekadar dusun penghasil buah manis, melainkan simbol jabat erat antara kearifan bumi selatan dan luhurnya ajaran iman.
Hingga kini, sisa-sisa kebun kuno itu masih ada. Di sebelah barat Dusun Duduhan ditandai dengan tanaman Mundu (Munduan), di sebelah baratnya lagi Dusun Kedawung dengan tanaman obatnya, dan sebelah baratnya lagi kini berdiri kokoh sebagai Dusun Wonoayu.
CATATAN BOTANI DAN SEJARAH ALAM: BUAH MUNDU
Identitas Ilmiah: Buah yang dalam babad ini disebut buah kuning elok adalah buah Mundu atau Rata yang memiliki nama latin Garcinia dulcis. Spesies ini termasuk ke dalam famili Clusiaceae (Guttiferae), menjadikannya kerabat dekat dari buah manggis (Garcinia mangostana) dan asam kandis (Garcinia parvifolia).
Karakteristik Fisik:
Pohon: Merupakan pohon berukuran sedang yang hijau abadi (tidak menggugurkan daun secara musiman) dengan tinggi mencapai 13 hingga 20 meter. Batangnya tegak berwarna cokelat tua dan menghasilkan getah berwarna putih kekuningan saat terluka.
Daun: Memiliki daun yang tebal, berbentuk bulat memanjang, bertekstur kaku, dan permukaan atasnya mengilap berwarna hijau tua, sementara daun mudanya berwarna kemerahan.
Buah: Berbentuk bulat menyerupai bola pingpong dengan ujung sedikit meruncing. Ketika matang, buahnya berwarna kuning keemasan murni dengan kulit yang halus dan tipis. Daging buahnya berwarna kuning terang, berair banyak, dengan rasa manis berpadu asam yang menyegarkan raga. Di dalamnya terdapat 1 sampai 5 butir biji berwarna cokelat.
Kandungan Aktif: Buah mundu kaya akan senyawa organik berkhasiat tinggi bagi tubuh, di antaranya:
Antioksidan & Flavonoid: Berperan aktif sebagai penangkal radikal bebas dan penawar racun alami bagi tubuh yang kelelahan.
Vitamin C Tingkat Tinggi: Memberikan kesegaran seluler, mencegah sariawan, menyehatkan kulit (menjadikannya halus dan bercahaya), serta meningkatkan kekebalan raga.
Saponin, Tanin, dan Asam Sitrat: Senyawa alami yang terbukti secara empiris berkhasiat sebagai penurun demam, antiinflamasi (pereda radang dan bengkak), serta melancarkan pencernaan. Pucuk daun mudanya pun kerap digunakan masyarakat tradisional sebagai obat diare.
Status Kelangkaan: Di masa lampau, pohon mundu tumbuh liar dengan subur di kebun-kebun pedesaan di wilayah Jawa dan sebagian Kalimantan. Namun, akibat perubahan tata guna lahan dan penebangan hutan, pohon mundu kini dikategorikan sebagai tanaman buah minor asli Indonesia yang sudah sangat langka dan hampir punah. Menemukan pohon mundu yang tumbuh kokoh di Dusun Wonoayu merupakan sebuah warisan sejarah alam Nusantara yang tak ternilai harganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar