Selasa, 16 Juni 2026

RAHASIA BUAH MUNDU (Asal-usul Wonoayu dan Kedawung - Mentoro - Pacitan)

ASAL USUL DUSUN WONOAYU & KEDAWUNG

(Dataran tepi sungai sebelah barat Pesantren Duduhan, abad 15)
Oleh: Nurichwan 


(Sejarah asal usul dusun Wonoayu. Sumber: Ilustrasi pribadi)
Senjakala Majapahit runtuh (1478 Masehi) akibat pembakaran kotaraja Trowulan oleh pasukan Keling pimpinan Ranawijaya Daha Kediri, menyisakan riak-riak perubahan di berbagai tempat di tanah Jawa. Saat eksodus pengungsi dan pelarian dari beragam kalangan dan kasta, bersamaan para tokoh babad alas mulai meluaskan pengaruh mandala Demak ke pedalaman selatan Wengker---yang kini kita kenal sebagai Pacitan---sejarah baru mulai ditulis.

Setelah babat Alas Rejoso berhasil dituntaskan oleh Ki Ageng Petung atas restu Betoro Katong sang Adipati Ponorogo, Syeh Maulana Maghribi diutus dari Demak menuju bumi Pacitan. Di sanalah beliau mendirikan Pesantren Duduhan, sebuah mercusuar iman di tengah lebatnya rimba selatan.

(Ilustrasi Keraton Majapahit  terbakar di kotaraja Wilwatikta Trowulan. Sumber: Ilustrasi pribadi)


Inilah masa keemasan yang gilang-gemilang di tanah duduh. Menata rimba menjadi berkah.

Masa tatkala rimba raya mulai disibak, persawahan subur mulai dicetak, aliran sungai-sungai jernih mulai diberi nama, dan jalan setapak mulai dirajut membelah bukit pegunungan. Di bawah naungan atap kajang yang bersahaja, anak-anak mulai berkumpul dengan takzim untuk mengeja kitab suci. Sanak keluarga yang dahulu mendekam dalam ketakutan di pekatnya gunung kini mulai berani turun melintasi lembah, membangun pedukuhan-pedukuhan baru yang dipenuhi harapan hidup yang lebih baik.

Tidak ada alasan bagi mereka untuk berselisih paham atau bertengkar. Perlahan, para penjaga hutan yang dahulu berpindah-pindah kini mulai belajar menetap, menata pekarangan, dan membangun keluarga yang kukuh.


Suatu pagi yang bening, embun masih menggelantung di pucuk daun ketika Kyai Lebirah, seorang sesepuh dari kaum Wong Kalang, berjalan tergesa menuju pelataran bangunan suci Duduhan. Di kedua tangannya, ia memikul keranjang anyaman bambu yang penuh berisi buah-buah liar yang ranum. Buah-buah itu diletakkan di hadapan Syeh Maulana Maghribi dan para santri yang tengah bersiap memulai hari.

"Dari mana kau dapatkan buah seindah ini, Lebirah?" tanya Syeh Maulana Maghribi. Jemarinya memegang sebutir buah berwarna kuning keemasan yang menebarkan aroma harum yang memikat.

"Ampun, Kyai Guru," jawab Kyai Lebirah sembari tersenyum lebar. "Silakan ikut hamba. Patok pemukiman sudah saya tancapkan di sebelah barat, tetapi mungkin ada pertimbangan lain dari panjenengan."

Maka berjalanlah para santri mengiringi Syeh Maulana Maghribi dan Kyai Lebirah ke arah barat pesantren. Mereka membawa keranjang, sabit, parang, and kelewang untuk berjaga-jaga.

Para santri yang bertugas merintis semak belukar di perbatasan mendadak tertegun saat menyibak jalinan semak liar. Mereka tidak menemui duri tajam atau tanaman beracun yang biasanya menjalar di hutan perawan, melainkan hamparan pohon ketela tahun yang umbinya sangat besar, pohon jambu yang berbuah lebat, serta aneka tanaman pangan lain yang tumbuh berjajar rapi.

Syeh Maulana Maghribi bangkit berjalan, menatap tanaman di hadapannya dengan pandangan heran. "Tanaman-tanaman ini tidak mungkin tumbuh secara liar di tengah semak, Lebirah. Barisannya terlalu lurus, jaraknya terlalu teratur. Siapa yang menanamnya?"

Kyai Lebirah mengangguk takzim, membenarkan dugaan sang guru. "Benar sekali, Kyai Guru. Itulah warisan rahasia dari kaum kami, Wong Kalang, saat masih menguasai kedalaman hutan ini. Mari hamba hantarkan untuk melihat langsung bagaimana tatanan rimba ini dibentuk."

Mereka kembali berjalan berdampingan, diikuti para cantrik yang membersihkan sisa-sisa ranting mati. Langkah kaki rombongan itu masuk ke kawasan yang dipenuhi barisan pohon kedawung yang menjulang tinggi. Dahan-dahannya yang rimbun menyaring sinar matahari menjadi pendaran cahaya hijau yang menyejukkan batin.

Melihat kerapian pohon-pohon kedawung tersebut, beberapa santri bersiap mengayunkan parang demi melapangkan tanah tapak pemukiman. Namun, Syeh Maulana Maghribi segera mengangkat tangannya, mencegah gerak para cantrik.

"Jangan ditebang!" pencegah sang Syeh. "Biarkan pohon-pohon kedawung ini tetap tegak berdiri. Cukup babat semak belukar di bawahnya. Kawasan ini akan kita tata dengan rapi dan kita resmikan menjadi Kebon Kedawung. Biarkan ia menjadi kebun obat yang dilindungi untuk mengobati siapa saja yang membutuhkan di bumi perdikan ini."

Kyai Lebirah tersenyum haru. Rasa hormatnya kepada sang Guru semakin menghujam dalam di dadanya. Ia melihat bagaimana kearifan kuno kaumnya kini diadopsi dengan penuh penghormatan, bukan dimusnahkan atas nama pembukaan lahan baru. Sang Guru bahkan memerintahkan para santri untuk mencari tunas-tunas baru yang serupa untuk ditanam kembali dengan rapi di sekitarnya.

"Sungguh sebuah aturan hidup yang rapi," puji sang Syeh.

"Benar, Kyai Guru," lanjut Kyai Lebirah. "Bahkan jika panjenengan melayangkan pandangan ke sebelah timur yang sangat luas itu, di sana terbentang area pohon jati raksasa yang kami sebut Jati Wetan. Sementara di sebelah barat, membentang pula Jati Kulon. Di sana tumbuh pohon-pohon jati kuno yang usianya sangat tua. Batang-batangnya sangat lurus dan kuat, sangat tepat untuk kita tebang secara terhormat guna mendirikan tiang soko guru pendopo pertemuan, memperkuat masjid perdikan, serta memperluas asrama santri."

Syeh Maulana Maghribi tersenyum hangat. "Ketulusanmu melapangkan dadaku, Lebirah. Bumi selatan ini rupanya telah menyiapkan segalanya untuk kita. Pantas namamu Lebirah---Lebih dan Turah. Ternyata Gusti Allah mencukupi kebutuhan pesantren dengan turah (berlebih) melalui dirimu."

"Apa ini kebetulan, Kyai Guru?" tanya Lebirah pelan, seolah menyimpan sebuah rahasia.

"Bukan, Gusti Allah menciptakan tak ada yang kebetulan. Sesungguhnya semua ini adalah rencana-Nya."

Percakapan itu mempertebal rasa iman di dada keduanya. Rombongan terus bergerak ke arah barat sesuai rencana semula. Di sana, semak belukar mulai dirapikan, digulung, lalu dibakar dengan hati-hati agar abunya kembali menyuburkan tanah kebonan.

Saat gulungan belukar terakhir berhasil disingkirkan, pandangan mereka tertumbuk pada sekelompok tanaman rendah yang dipenuhi buah bulat ranum berwarna kuning murni yang mengilap ditiup angin. Rasa manis yang segar menyeruak saat dahan-dahannya bergoyang.

"Jan, ayu-ayu..." gumam Syeh Maulana Maghribi spontan, mengagumi keindahan buah kuning yang elok tersebut. Beliau melangkah maju, memetik lalu mencicipinya. Rasa manis yang khas langsung membasahi kerongkongannya, seketika mengusir penat perjalanan.

Kyai Lebirah dan para santri yang mendengar gumaman itu bersorak. "Kyai Guru menyebutnya 'ayu'! Sungguh ini adalah tanda yang baik bagi kita semua," seru Kyai Lebirah. "Maka, mari kita sepakati bersama bahwa hutan semak penuh buah manis yang elok ini kita namakan Wonoayu!"

Syeh Maulana Maghribi tersenyum lebar menyetujui nama tersebut. Kawasan di sebelah barat Pesantren Duduhan resmi menjadi pemukiman baru bernama Wonoayu.

BUAH MUNDU WONOAYU

Ketika para santri mulai sibuk menandai pohon-pohon buah kuning (yang kelak dikenal sebagai buah Mundu) untuk dipindahkan sebagian ke pekarangan pesantren, Kyai Lebirah menyentuh lembut lengan Syeh Maulana Maghribi. Ia mengisyaratkan sang guru untuk mengikutinya naik ke atas bukit kecil di batas barat Wonoayu.

Dari ketinggian gundukan bukit itu, Syeh Maulana Maghribi memandang ke bawah. Seketika, pandangan beliau terkunci. Matanya melebar penuh rasa takjub.

Dari atas sini, batas-batas alam yang baru saja mereka lalui terlihat sangat jelas. Kebon Kedawung di sisi timur, barisan kokoh Jati Wetan dan Jati Kulon, serta hamparan Wonoayu di sisi barat ternyata tidak tumbuh acak. Pohon-pohon itu melengkung, mengitari Pesantren Duduhan yang berada tepat di tengahnya.

Itu bukan sekadar kebun buah biasa, melainkan sebuah sabuk pertahanan pangan yang agung.

"Lebirah..." bisik Syeh Maulana Maghribi, suaranya bergetar khusyuk. "Ini semua... adalah pagar pangan untuk halaman kita."

Kyai Lebirah mengangguk takzim, lalu berlutut di tanah. "Benar, Kyai Guru. Inilah persembahan rahasia dari leluhur kaum kami, Wong Kalang. Kami tahu, kelak para cantrik yang menimba ilmu di Duduhan ini adalah para Santri Swatani---jiwa-jiwa mulia yang mengaji dan membaca kitab suci di waktu malam, namun harus turun bertani duduh, mencangkul sawah, dan menanam pangan di waktu siang tanpa kenal lelah."

Lebirah menatap wajah sang Syeh dengan mata berkaca-gaca. "Kami tidak ingin para santri swatani itu kelaparan atau kehabisan tenaga. Kami sengaja menanam pagar pangan hidup ini puluhan tahun lalu, agar bumi Duduhan langsung menyuguhkan buah-buahan segar yang melimpah dan murah tanpa mereka harus bersusah payah membelinya. Dengan begitu, mereka bisa mandiri, berkecukupan pangan, dan betah tinggal di bumi selatan ini."

Mendengar penuturan itu, Syeh Maulana Maghribi tertegun dalam keharuan yang mendalam. Beliau menyadari bahwa dakwah di tanah Jawa tidak sedang menaklukkan hutan sunyi yang liar, melainkan sedang dipeluk erat oleh ketulusan budi para penjaga bumi.

Kini terjawab sudah rahasia besar di balik ketangguhan para santri swatani Duduhan. Meski siang hari mereka memeras keringat di ladang berlumpur dan malamnya terjaga untuk beribadah, kekuatan fisik mereka luar biasa dan hampir tidak pernah terserang penyakit.

Bahkan, masyarakat sekitar kerap tertegun melihat rupa para santriwati Duduhan yang elok rupawan. Selain karena pancaran air wudhu yang tak pernah putus membasahi wajah mereka, kulit mereka terkenal sangat halus, bersih, dan tampak segar bercahaya layaknya kulit buah mundu yang ranum. Keindahan paras lahiriah yang bersih ini dipercaya kuat sebagai berkah karena mereka gemar mengonsumsi buah munduan yang melimpah ruah tersebut. Ayu Tenan!

Ternyata, rahasianya ada pada buah kuning elok yang melimpah di batas barat itu: Buah Mundu. Buah ini kaya akan penawar racun tubuh (antioksidan) dan sari penyegar raga (vitamin C) yang sangat tinggi. Khasiat alaminya terbukti ampuh sebagai penurun panas demam sekaligus pereda pembengkakan dan radang (antiinflamasi) bagi para santri yang kelelahan bekerja.

Syeh Maulana Maghribi memeluk bahu Kyai Lebirah dengan rasa persaudaraan yang erat. Sejarah mencatat, Wonoayu bukan sekadar dusun penghasil buah manis, melainkan simbol jabat erat antara kearifan bumi selatan dan luhurnya ajaran iman.

Hingga kini, sisa-sisa kebun kuno itu masih ada. Di sebelah barat Dusun Duduhan ditandai dengan tanaman Mundu (Munduan), di sebelah baratnya lagi Dusun Kedawung dengan tanaman obatnya, dan sebelah baratnya lagi kini berdiri kokoh sebagai Dusun Wonoayu.

(Buah MUNDU. Sumber: Ilustrasi GAI)

_Noir X One_

CATATAN BOTANI DAN SEJARAH ALAM: BUAH MUNDU

  • Identitas Ilmiah: Buah yang dalam babad ini disebut buah kuning elok adalah buah Mundu atau Rata yang memiliki nama latin Garcinia dulcis. Spesies ini termasuk ke dalam famili Clusiaceae (Guttiferae), menjadikannya kerabat dekat dari buah manggis (Garcinia mangostana) dan asam kandis (Garcinia parvifolia).

  • Karakteristik Fisik:

    • Pohon: Merupakan pohon berukuran sedang yang hijau abadi (tidak menggugurkan daun secara musiman) dengan tinggi mencapai 13 hingga 20 meter. Batangnya tegak berwarna cokelat tua dan menghasilkan getah berwarna putih kekuningan saat terluka.

    • Daun: Memiliki daun yang tebal, berbentuk bulat memanjang, bertekstur kaku, dan permukaan atasnya mengilap berwarna hijau tua, sementara daun mudanya berwarna kemerahan.

    • Buah: Berbentuk bulat menyerupai bola pingpong dengan ujung sedikit meruncing. Ketika matang, buahnya berwarna kuning keemasan murni dengan kulit yang halus dan tipis. Daging buahnya berwarna kuning terang, berair banyak, dengan rasa manis berpadu asam yang menyegarkan raga. Di dalamnya terdapat 1 sampai 5 butir biji berwarna cokelat.

  • Kandungan Aktif: Buah mundu kaya akan senyawa organik berkhasiat tinggi bagi tubuh, di antaranya:

    • Antioksidan & Flavonoid: Berperan aktif sebagai penangkal radikal bebas dan penawar racun alami bagi tubuh yang kelelahan.

    • Vitamin C Tingkat Tinggi: Memberikan kesegaran seluler, mencegah sariawan, menyehatkan kulit (menjadikannya halus dan bercahaya), serta meningkatkan kekebalan raga.

    • Saponin, Tanin, dan Asam Sitrat: Senyawa alami yang terbukti secara empiris berkhasiat sebagai penurun demam, antiinflamasi (pereda radang dan bengkak), serta melancarkan pencernaan. Pucuk daun mudanya pun kerap digunakan masyarakat tradisional sebagai obat diare.

  • Status Kelangkaan: Di masa lampau, pohon mundu tumbuh liar dengan subur di kebun-kebun pedesaan di wilayah Jawa dan sebagian Kalimantan. Namun, akibat perubahan tata guna lahan dan penebangan hutan, pohon mundu kini dikategorikan sebagai tanaman buah minor asli Indonesia yang sudah sangat langka dan hampir punah. Menemukan pohon mundu yang tumbuh kokoh di Dusun Wonoayu merupakan sebuah warisan sejarah alam Nusantara yang tak ternilai harganya.

SYEH MAULANA MAGHRIBI - Babad Duduhan Pacitan

SYEH MAULANA MAGHRIBI 

Oleh: Nurichwan 

(Sejarah asal usul dusun Duduhan. Sumber: Ilustrasi pribadi)

I. SENJAKALA MAJAPAHIT DAN CAHAYA DARI TIMUR

Senjakala Majapahit runtuh (1478 Masehi) akibat pembakaran kotaraja Trowulan oleh pasukan Keling pimpinan Ranawijaya Daha Kediri, menyisakan riak-riak perubahan di berbagai tempat di tanah Jawa. Saat eksodus pengungsi dan pelarian dari beragam kalangan dan kasta terjadi, bersamaan pula para tokoh babad alas mulai meluaskan pengaruh mandala Demak ke pedalaman selatan Wengker---yang kini kita kenal sebagai Pacitan. Di sanalah sejarah baru mulai ditulis.

Setelah babat Alas Rejoso berhasil dituntaskan oleh Ki Ageng Petung atas restu Betoro Katong sang Adipati Ponorogo, Syeh Maulana Maghribi diutus dari Demak menuju bumi Pacitan. Di sanalah beliau mendirikan Pesantren Duduhan, sebuah mercusuar iman di tengah lebatnya rimba selatan.

II. PERDIKAN DUDUHAN (1498--1500 Masehi)

A. Mandat Kudus dari Demak Bintoro

Matahari belum tinggi ketika Sultan Raden Patah duduk di atas singgasana Kesultanan Demak Bintoro. Sebagai penguasa, sepasang matanya menatap jauh ke cakrawala selatan Jawa---sebuah wilayah pedalaman yang masih diselimuti kabut takhayul dan hutan belantara. Di pundaknya, terpikul sebuah sumpah: merajut kembali tali persaudaraan sesama keturunan Prabu Brawijaya V dan Trah Rajasa lainnya yang tercerai-berai pasca-runtuhnya Majapahit, sekaligus menyalakan pelita iman hingga ke pelosok terjauh.

Demi menunaikan tugas suci itu, diutuslah seorang ulama arif dari negeri barat, Syeh Maulana Maghribi. Langkah kakinya membawa sang ulama menghadap Betoro Katong, sang Adipati Ponorogo yang agung.

Di pendopo kadipaten, Syeh Maulana Maghribi meletakkan sebuah kotak kendaga kayu berukir halus. Di dalamnya, terbaring selembar nawala dhumawuh---surat perintah resmi dari Sultan Demak.

"Kanjeng Sultan mengutus hamba untuk melakukan duduh, menuntun iman dan menyebarkan risalah di pedalaman selatan, Gusti Adipati," ucap Syeh Maulana Maghribi sembari menjura hormat.

Sang Adipati muda mengangguk-angguk takzim. "Di selatan, sudah ada yang babat alas. Ini adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk dibimbing keimanannya. Aku merestui langkahmu."

Seketika itu juga, sang Adipati memberikan tanda perizinan resmi. Sebuah cap Pradata dari lantakan logam kadipaten diketukkan di atas lembaran dluwang.

B. Paku Bumi Kecik Sari

Perjalanan pun dimulai. Syeh Maulana Maghribi berangkat membawa serta rombongan keluarga dan para pengikut setia dari Demak.

Medan yang mereka lalui tidaklah mudah. Rombongan itu harus naik turun gunung, mendaki tebing-tebing curam yang berbatu, dan menyusuri tepian sungai besar yang berarus deras. Gemercik air sungai dan lolongan satwa liar menjadi teman setia. Dua hari mereka berjalan menembus lebatnya hutan, hingga akhirnya mata mereka bertumpu pada sebuah pemandangan menakjubkan: sebuah lembah yang nampak rata, luas, dan subur di seberang sungai. Dengan hati-hati, seluruh rombongan menyeberangi aliran air tersebut.

Setibanya di tanah baru yang jauh dari pusat kerajaan itu, langkah pertama yang dilakukan adalah menandai wilayah. Karena memahat batu tenger atau prasasti membutuhkan waktu yang teramat lama, mereka membawa cara lain yang lebih mudah: bibit pohon Nogosari, atau yang kerap disebut kecik sari.

Pohon Nogosari ditanam oleh Syeh Maulana Maghribi bukan sekadar sebagai peneduh nantinya. Pohon itu adalah "paku bumi kecik sari"---sebuah penanda umum bagi para pendakwah keliling di masa depan bahwa titik tersebut adalah pusat perdikan baru yang sah di bawah naungan Kesultanan Demak.

C. Pertemuan Dua Kendaga di Rejoso

Langkah kaki Syeh Maulana Maghribi akhirnya menuntunnya bertemu dengan tetua wilayah tersebut, Ki Ageng Petung. Leluhur yang bersahaja itu menyambut sang ulama dengan kehangatan luar biasa.

"Selamat datang di daerah Rejoso," sambut Ki Ageng Petung tulus.

Namun, kejutan terjadi setelah Syeh Maulana Maghribi menyampaikan maksud kedatangan dan salam dari Demak. Mendengar penjelasan tersebut, Ki Ageng Petung tersenyum, lalu berbalik masuk ke kamarnya. Ia keluar membawa sebuah kendaga miliknya sendiri yang penampilannya jauh lebih tua, terbuat dari bilah Bambu Petung yang dikeringkan dengan sempurna.

Saat kotak bambu itu dibuka, Syeh Maulana Maghribi tertegun. Di dalamnya terdapat suprasasti resmi dari Adipati Katong. Sungguh tak salah dugaannya; Ki Ageng Petung bukan orang sembarangan. Ia adalah tokoh penting kadipaten yang memiliki urusan jangka panjang dalam mengamankan wilayah selatan.

Asal-usul tanda kekuasaan ini dihormati oleh kedua pihak. Sebagai perimbangan rasa hormat atas titah Kanjeng Sultan Demak yang dibawa Syeh Maulana Maghribi---yang bahkan telah dicap Pradata oleh Adipati---Ki Ageng Petung langsung menanyakan kabar keselamatan wilayah Wengker, Keling, dan Demak Bintoro.

D. Bendhe Parambon Dan Kyai Lebirah

Setelah menikmati hidangan bersama sebagai tanda persaudaraan, Ki Ageng Petung menabuh bendhe---tanda kumpul. Warga Rejoso dan para kuwu---kepala desa bersama warganya berbondong-bondong menuju Parambon, tempat musyawarah yang sakral (kelak disebut daerah Prambon).

Di hadapan khalayak yang menyemut, Syeh Maulana Maghribi berdiri dengan jubahnya yang bersahaja. Suaranya mengalun tenang namun berwibawa:

"Wahai saudaraku di Rejoso, ketahuilah bahwa Kadipaten Wengker kini telah berkembang pesat. Keling Daha masih mencengkeram kuasa, dan mahkota Majapahit kini terbelah kembar antara Demak Bintoro dan Kediri. Namun di tengah kemelut ini, Kesultanan Demak telah mengutus para Syeh dari tanah Maghrib. Kedatangan kami adalah untuk menggelar pedoman 'aji'---menjadi saka guru bagi pranatan baru kehidupan kita. Ini semua bukan demi melanggengkan kuasa darah biru keraton, melainkan demi menguatkan rakyat akar rumput."

Beliau berhenti sejenak, mengedarkan pandangan, lalu menjabarkan visi besarnya:

"Tujuan kami adalah menggelar sorban, membentangkan udheng kamodhangan---yakni hamparan pengetahuan---ke seluruh penjuru tanah Jawa. Ini adalah babak baru. Pengetahuan dan keimanan ini tidak boleh lagi hanya dipegang oleh para priyayi ningrat atau Gusti Trah Rajasa saja. Kebenaran ini adalah milik kawula sudra, bahkan kaum Kalang sekalipun. Sebab di hadapan Gusti Allah, derajat manusia adalah sama."

Beliau kemudian menunjuk ke arah pepohonan, menguraikan sebuah tatanan perlambang:

"Wit adokoh wohe adikih. Lihatlah pohon-pohon besar para penguasa itu. Mereka memang dibina takdir untuk menjadi pengayom, ibarat pohon beringin yang kokoh namun buahnya kecil dan pahit. Sebaliknya, wit adikih wohe adokoh. Itulah tugas agung para Kyai dan Guru: membangun rakyat jelata, merangkul wong cilik agar mereka mampu menghasilkan buah yang besar dan bermanfaat, seperti waluh, gembili, semangka, blewah, dan telo rambat."

Beliau mengakhiri petuah dengan senyum penuh harapan:

"Zaman telah berubah. Ojo nggresah. Tugas kita sekarang adalah memintarkan rakyat. Mereka yang dulunya sekadar diikat kepalanya tanpa arti, kini harus diudhengi---diberi kain kemuda kemodhang kepala kehormatan. Mengapa? Supaya mereka bersemangat untuk mudheng kawruh-berilmu, supaya mereka modang. Paham secara batin, dan padhang-terang dalam pikiran."

Mendengar seruan yang memanusiakan itu, gemuruh haru melanda Parambon. Pertemuan itu ditutup dengan ajakan untuk bersama-sama membangun sebuah tempat belajar---yakni perdikan atau pesantren.

E. Lahirnya Perdikan Duduhan

Sesuai kesepakatan, Ki Ageng Petung memerintahkan abdi-abdinya yang dipimpin oleh Kyai Lebirah---seorang kuwu sekaligus pemimpin kaum Kalang---untuk mulai menebang pohon hutan. Titik yang dipilih Syeh Maulana Maghribi tidak lain adalah lahan di sekitar bibit pohon Nogosari yang telah ia tanam tempo hari. Tempat itu kemudian dinamakan Duduhan, sebuah wilayah yang berada di bawah kamandalan Rejoso, berjarak sekitar 4 pal dari pusat Rejoso.

Saat itu, jumlah pakuwon belum banyak, hanya ada dua, menaungi beberapa kepala keluarga. Di kanan-kiri Rejoso membentang hutan lebat tempat bermukimnya kaum Kalang Wetan dan Kalang Kulon.

"Ampun, Kiai Guru, ampun Gusti Ki Ageng," jawab Kyai Lebirah dengan suara agak malu. "Para anak muda dari kaum kami sesungguhnya sangat ingin mereguk kawruh pengetahuan di sini. Namun, di dalam dada mereka tersimpan ketakutan yang teramat besar."

"Ketakutan apa lagi itu, Lebirah?" tanya Syeh Maulana Maghribi lembut.

"Ketakutan akan kelaparan, Kyai Guru. Seumur hidup, kaum kami hanya tahu cara berburu celeng (babi hutan) dan hewan liar dengan bantuan anjing di belantara, atau memetik buah asam yang jatuh. Jika kami menetap di sini untuk belajar di bawah naungan atap sirap kajang, siapakah yang akan mencari makan untuk anak istri kami di dalam dukuh? Menanam padi membutuhkan tanah basah yang luas dan waktu yang teramat lama, sedangkan perut kami tidak bisa menunggu."

Mendengar kekhawatiran yang teramat jujur itu, Ki Ageng Petung terdiam. Menetap dan belajar mengaji berarti mereka harus meletakkan parang berburu mereka, sebuah pilihan yang terasa mustahil bagi perut mereka yang lapar.

Syeh Maulana Maghribi tersenyum hangat. Beliau bangkit dari duduknya, mengambil sebatang ranting kering, lalu menorehkan gambar lingkaran bumi di atas tanah pelataran.

"Ketahuilah, Ki Ageng Petung, Lebirah, dan para santri sekalian," bisik sang Syeh, seraya menunjuk lingkaran yang dibuatnya. "Mata dan jantung dunia saat ini sedang berdetak kencang di bandar besar Kesultanan Demak Bintoro. Di sana, kapal-kapal jung raksasa dari mancanegara---Arab, Persia, Gujarat, hingga negeri Cina---bukan hanya membawa kain sutra dan cendana, melainkan membawa rahasia bumi yang baru. Mereka membawa bibit-bibit tanaman kebun yang belum pernah menyentuh tanah pedalaman Jawa: blewah yang ranum, semangka yang segar, kacang-kacangan, kentang, umbi-umbian, hingga jagung emas."

Beliau menjeda ucapannya, menatap tajam ke wajah Kyai Lebirah yang masih polos.

"Kita tidak akan berhenti di tanaman padi saja. Seluruh santri di sini akan diajari menanam dengan cara-cara baru. Mengapa? Karena kemandirian sejati adalah saat perut rakyat jelata tidak lagi dijajah oleh kelaparan. Jika lambung mereka tenang, maka akal dan hati mereka akan lapang untuk menyerap kawruh pengetahuan. Ketika rakyat jelata memiliki ilmu, tak lagi ada segala sekat kasta yang merendahkan. Di situlah terwujudnya kesetaraan sejati, manunggaling kawula kalawan gusti, di mana kedekatan hamba berilmu dengan Sang Pencipta menyatu, dan tiada lagi jurang pemisah antara penguasa dan rakyatnya."

Syeh Maulana Maghribi menegakkan punggungnya, menyapukan pandangan penuh harap kepada para pemuda Kalang yang mulai menegakkan wajah mereka.

"Tanaman kebun baru ini tumbuh dengan cepat dan tidak membutuhkan air melimpah seperti padi sawah. Kalian bisa menanamnya di sela-sela pekarangan rumah dan di lereng perbukitan hutan yang kering. Sebelum musim panen padi tiba, lambung kalian sudah akan dipenuhi oleh manisnya buah blewah, segarnya semangka, ubi, dan menguningnya tongkol jagung emas. Inilah langkah pertama kita, bertani secara swasembada---berdiri di atas kaki sendiri tanpa perlu cemas akan kelaparan, itulah fungsinya pesantren kita nanti."

Mendengar pemaparan rencana yang begitu agung dan menjawab langsung ketakutan terdalam mereka, runtuhlah keraguan di dalam dada Kyai Lebirah and para pemuda Kalang.

Kyai Lebirah yang terpikat dengan keluhuran ilmu sang Syeh, menghadap Ki Ageng Petung. "Gusti, hamba dan keluarga yang masih menetap di dalam hutan berniat untuk pindah dan menetap di Duduhan agar bisa berguru kepada Syeh Maghribi."

Izin diberikan. Kyai Lebirah segera mengutus anak buahnya masuk ke perbukitan barat dan timur untuk menjemput kaumnya yang hidup terpencil. Atas kemurahan hati Ki Ageng Petung yang mendermakan bahan pangan selama masa transisi, gotong royong akbar terjadi. Kaum Kalang dan warga berbaur menebang pohon, membuka lahan pertanian baru, membangun rumah, mendirikan masjid, serta kompleks pesantren yang sederhana.

(Ilustrasi Wong Kalang yang statusnya disamakan dengan priyayi bersama Ki Ageng Petung dan Syeh Maulana Maghribi. Sumber: Ilustrasi GAI)

Watu Kethu Sunan Gribig dari Wong Kalang (folklore): Ada cerita masyarakat Duduhan saking senangnya dengan udheng corak kemuda hadiah dari Demak, Kyai Lebirah sampai mengukir batu berbentuk bulatan kepala, yang kemudian dikenal namanya sebagai "Watu Kethu". Namun di tahun 1980-an batu itu sudah tak berada di tempatnya. Konon apabila ada yang membawa atau membuang, akan kembali lagi ke tempat semula-mitosnya.   

F. Peradaban Santri Pertama di Bumi Pacitan, Santri Duduhan Dari Rejoso Dan Kalang

Di Duduhan, Syeh Maulana Maghribi tidak hanya menata batin para santrinya dengan iman, tetapi juga memperbarui peradaban hidup mereka melalui cara bertani yang baik (duduh).

Awalnya, Syeh Maulana Maghribi mencoba mengajarkan ilmu rubuk (astronomi menggunakan kuadran seperempat lingkaran) dari tanah Maghrib untuk membaca pergerakan bintang dan menentukan musim. Namun, warga pribumi kebingungan karena huruf dan angka-angkanya asing, terlalu rumit bagi mereka.

Melihat kesulitan itu, Syeh Maulana Maghribi tidak memaksakan kehendak. Bersama Kyai Lebirah yang rupanya sudah mahir membaca dan menulis aksara Kawi, sang Syeh merumuskan metode baru. Warga diajarkan aksara Pegon serta dua puluh aksara jawa baru---Hanacaraka dan Pegon yang disesuaikan---untuk menghafal sifat-sifat Gusti Allah.

Sementara untuk urusan perut, mereka memperbarui sistem Pranata Mangsa (penanggalan musim tanam). Ki Ageng Petung yang dulunya hanya menghafal dua musim, merasa sangat gembira melihat sistem baru yang jauh lebih akurat ini.

Karena alat rubuk terlalu sulit digunakan, warga menyiasatinya dengan membuat tatal---papan kayu datar yang diberi goresan garis siklus matahari yang sederhana. Dengan papan kayu buatan sendiri ini, setiap pakuwon kini bisa mandiri menentukan kapan waktu terbaik untuk menyebar benih dan kapan harus memanen.

"Swathani, sembodo tanbono kayu watu. Nama Duduhan ini abadi dari kata duduh jadi petani," ujar Syeh Maulana Maghribi suatu sore kepada Ki Ageng Petung. "Sebab dakwah keliling membutuhkan ketahanan pangan. Perjuangan kita adalah bertani secara swa thani---mandiri, beragama bukan dengan jalan meminta-minta atau menukarkan emas  atau sesajen kepada kayu dan batu di tempat yang belum tentu memiliki pasar untuk ditukar ilmu dan berkah."

(Ilustrasi Santri  Swatani/ Cantrik Swa-Thani. Sumber: Ilustrasi GAI)

III. SANTRI SWATANI: BUKAN BEBAN

"Mengapa swatani, Kyai?" tanya Lebirah suatu malam di bawah pendar pelita minyak jarak.

Syeh Maulana Maghribi menatap keluar jendela, ke arah kegelapan hutan yang perlahan mulai diterangi obor-obor perumahan santri. "Sebab kita tidak ingin pesantren ini menjadi beban bagi tanah perdikan, tidak juga menjadi peminta-minta yang menukarkan doa dengan upeti. Santri Duduhan harus menjadi tangan di atas. Siang mencangkul bumi, malam menyalakan pelita suci. Tangan yang penuh lumpur di siang hari adalah tangan yang paling bersih saat menengadah berdoa di malam hari. Mereka adalah santri swatani---bukan beban, melainkan tiang penyangga bumi."

Inilah masa keemasan yang gilang-gemilang di tanah duduh. Menata rimba menjadi berkah. Santri Swatani-Swasembada-Mandiri.

Masa tatkala rimba raya mulai disibak, persawahan subur mulai dicetak, aliran sungai-sungai jernih mulai diberi nama, dan jalan setapak mulai dirajut membelah bukit pegunungan. Di bawah naungan atap kajang yang bersahaja, anak-anak mulai berkumpul dengan takzim untuk mengeja kitab suci. Sanak keluarga yang dahulu mendekam dalam ketakutan di pekatnya gunung kini mulai berani turun melintasi lembah, membangun pedukuhan-pedukuhan baru yang dipenuhi harapan hidup yang lebih baik.

Tidak ada alasan bagi mereka untuk berselisih paham atau bertengkar. Perlahan, para penjaga hutan yang dahulu berpindah-pindah kini mulai belajar menetap, menata pekarangan, dan membangun keluarga yang kukuh.

(Noir X One)

GLOSARIUM ISTILAH JAWA KUNO (BABAD DUDUHAN)

Berikut adalah daftar istilah tradisional Jawa yang digunakan dalam kisah Babad Duduhan beserta arti singkatnya untuk memudahkan pembaca:

  • Alas: Hutan belantara.

  • Babad / Babat: Membuka lahan hutan (babat alas), atau bisa berarti kisah sejarah/asal-usul suatu daerah.

  • Bendhe: Gong kecil bernada tinggi yang ditabuh untuk mengumpulkan warga atau memberi pengumuman.

  • Cantrik / Santri: Murid, santri, atau pengikut yang belajar di sebuah padepokan/pesantren tradisional.

  • Dluwang: Kertas kuno tradisional Jawa yang terbuat dari serat kulit pohon.

  • Duduh: Menunjukkan, menuntun, atau mengajari cara bertani (asal-usul nama Dusun Duduhan).

  • Kamandalan: Daerah bawahan atau wilayah pusat kegiatan sosial  kemasyarakatan. Bentuknya seperti lingkar pengaruh/kekuasaan.

  • Kecik sari: Merujuk pada biji Nogosari.

  • Kendaga: Kotak peti kecil berukir untuk menyimpan surat berharga atau benda pusaka.

  • Kemuda: Corak batik kain untuk kepala, "kemudaan" melambangkan semangat, vitalitas, dan kreativitas bagi pemakainya.

  • Kemodhang/Modhang: motif klasik berbentuk lidah. Motif ini melambangkan sinar kehidupan, kewibawaan, dan keseimbangan dari empat unsur alam (angin, api, bumi, air).

  • Kuwu: Kepala desa atau pemimpin wilayah setingkat desa pada zaman dahulu.

  • Nawala dhumawuh: Surat titah atau perintah resmi tertulis dari raja/penguasa.

  • Pal: Satuan ukuran jarak kuno (1 pal berkisar antara 1,5 hingga 1,6 kilometer).

  • Pakuwon: Kompleks pemukiman sederhana atau wilayah hunian warga.

  • Pradata: Urusan hukum, pengadilan, atau cap resmi administratif pemerintahan kadipaten.

  • Pranata Mangsa: Aturan penanggalan musim tradisional Jawa untuk menentukan masa bercocok tanam.

  • Rubuk: Ilmu astronomi atau perbintangan kuno untuk membaca musim dan waktu. Perhitunga seperempat lingkaran, teknologi astronomi yang rumit namun presisi.

  • Aji: Dihormati, kehormatan.

  • Saka Guru: Tiang utama sebuah bangunan.

  • Sudra: Rakyat jelata atau golongan masyarakat rendah.

  • Swathani / Swa Thani / Swatani: Kemandirian bertani atau berdikari dalam hal pangan tanpa meminta-minta upeti.

  • Tatal: Sisa belahan kayu, dalam kisah ini dibuat menjadi papan datar penunjuk perhitungan hari dan pranata mangsa.

  • Tenger: Patok prasasti, penanda wilayah, atau prasasti tanda bukti kekuasaan.

  • Udeng / Diudhengi: Kain ikat kepala khas Jawa / diberi ikat kepala sebagai tanda penghormatan dan ilmu.

  • Wit adokoh woh adikih: Filosofi Jawa "pohon besar buahnya kecil", perlambang penguasa yang mengayomi tapi memberi sedikit manfaat nyata.

  • Wit adikih woh adokoh: Filosofi Jawa "pohon kecil buahnya besar", perlambang rakyat jelata atau guru yang bersahaja namun menghasilkan banyak manfaat berlimpah.

  • Wong Kalang: Kelompok masyarakat adat Jawa kuno yang terkenal sakti dan sangat ahli dalam mengelola perkayuan serta penataan hutan. Kelompok ini dulu sangat dipinggirkan.

#SyehMaghribi

KI AGENG PETUNG - Babad Tanah Pacitan

KI AGENG PETUNG

Sumber: Babad Wana Rejoso (Periode Tahun 1478 – 1527 M)

Oleh: Nurichwan 

(Ilustrasi Ki Ageng Petung dalam perjalanannya Babat Alas di Wono Rejoso Pacitan. Sumber Ilustrasi GAI)

A. Trah Rajasa di Wengker 1478 M

Pada tahun yang dilingkupi duka, 1478 M, takdir tanah Jawa bergeser dengan begitu drastis. Raksasa agung Wilwatikta - kemaharajaan Majapahit, yang sekian abad memayungi Nusantara di bawah panji Wilwatikta, runtuh berkeping-keping akibat gelombang pergolakan paksa faksi Keling-Daha, Ranawijaya klan Girindrawardhana.

Seketika sirnalah kemegahan bumi Trowulan, menyisakan puing dan abu pembakaran yang membubung tinggi ke angkasa. Di tengah pemberontakan kuasa tersebut, para kesatria berdarah murni dari Wangsa Rajasa menolak untuk menyerah.

Mereka sebagian memilih jalan laku prihatin yang terhormat, berpencar menjaga nyala perjuangan di balik pekatnya belantara hutan Wengker. 

Di antara barisan trah luhur Rajasa yang memilih menempuh garis pertahanan tersebut, berdiri sosok Raden Petung.

Beliau adalah seorang wira perkasa yang menjaga martabat wangsanya di balik kesederhanaan hidup di pedalaman. Demi menghadapi benturan sengit melawan prajurit penguasa Keling Daha yang terus merangsek, Raden Petung melangkah gagah diantara barisan pertahanan.

Di bawah lindungan tajuk-tajuk pohon raksasa, sang kesatria tangguh merawat bara api Wangsa Rajasa yang mengalir deras dalam nadinya. Beliau bersama para pengikut setia menjadi benteng perlawanan yang kokoh.

Mereka mengolah tanah, mencucurkan keringat dan darah demi menjaga trah Rajasa dari kepunahan sejarah melalui jalan kesederhanaan.

(Pertahanan faksi Wilwatikta (Trowulan) dari gempuran prajurit Keling - Daha - Kediri. Sumber: Ilustrasi GAI)

Mengenai silsilahnya, terdapat dua versi besar yang melingkupi profil sang wira:

  • Versi Keturunan Jokodolog: Beliau bernama asli Raden Deleg. Dalam silsilah ini, posisinya setara dengan cucu Bhre Kertabhumi dari garis tersebut, namun selisih waktu membuatnya berusia lebih tua secara biologis daripada Adipati Betoro Katong (pendiri Ponorogo).
  • Versi Moyang Rajasa Lain: Beliau merupakan keturunan langsung dari leluhur Wangsa Rajasa melalui garis silsilah yang berbeda. Namun, versinya tetap menempatkan usia Raden Petung lebih tua daripada Betoro Katong.

B. Batara Katong 1496 M

Zaman yang berganti akhirnya menuntun fajar baru menyingsing di atas bumi Wengker. Datanglah seorang pangeran muda yang mengemban mandat suci dari pesisir utara, Raden Joko Piturun, yang dikenal di kalangan rakyat sebagai Raden Harak Kali.

Kedatangannya ini tidak dirancang untuk memicu peperangan terbuka secara langsung, melainkan sebuah misi taktis untuk mengambil alih dan mengonsolidasikan posisi pertahanan di wilayah barat dan selatan.

Sebab, jauh sebelum beliau tiba, para kesatria Rajasa dari faksi Trowulan telah mati-matian menjaga jengkal demi jengkal tanah Wengker dari cengkeraman mandala kotaraja Daha.

Melalui upacara sakral di atas Batu Gilang yang legendaris, Raden Joko Piturun dikukuhkan secara resmi sebagai penguasa baru dengan gelar agung Adipati Bathara Katong.

Peristiwa bersejarah ini bertepatan pada hari Ahad Pon, tanggal 1 Besar tahun 1418 Saka, atau tanggal 11 Agustus 1496 Masehi yang bertepatan pula dengan tanggal 1 Dzulhijjah 901 Hijriyah.

Mengingat usia sang adipati yang masih belia, Kesultanan Demak menyertakan dua pilar utama pengawal dinasti yang amat mumpuni untuk mendampinginya.

Pertama adalah Ki Ageng Patih Seloaji yang bertindak sebagai Waliraja senior untuk memimpin urusan pertahanan dan militer. Kedua adalah Ki Ageng Mirah selaku ulama luhur yang bergerak di garis dakwah melalui pendekatan akulturasi budaya yang harmonis dan luwes.

Di bawah bimbingan kearifan Waliraja Patih Seloaji, disadari sepenuhnya bahwa ketenteraman bumi Wengker tidak akan pernah bisa tegak jika hanya mengandalkan ketajaman pedang. Langkah pertama yang krusial adalah merangkul kembali saudara-saudara Trah Rajasa yang masih berserakan di hutan, telah lama bertahan dari gempuran Keling.

Dalam sebuah pisowanan yang dilangsungkan sesaat setelah pengukuhan Batu Gilang, Raden Petung melangkah masuk ke pelataran pendopo Ponorogo. Beliau menghadap sebagai wira perkasa yang gagah, bertubuh tegap, dengan sorot mata tajam yang memancarkan wibawa kesatria tanding yang tangguh. Kehadirannya disambut hangat oleh Patih Seloaji sebagai kerabat seagung.

Sebelum mengemban tugas berat di medan selatan, Raden Petung menetap sejenak di pusat kadipaten untuk berguru kepada Ki Ageng Mirah. Melalui kelembutan dakwah, beliau memperdalam hakikat iman dan syariat Islam.

Langkah ini sekaligus menjadi ujian kematangan batin dari sang ulama, memastikan bahwa pedang pusaka yang digenggam Raden Petung kini telah dibimbing oleh cahaya iman yang lurus seperti tongkat bambu petung. Sehingga konon, kedudukannya menjadi salah satu bagian dari empat puluh pembabat hutan Wana Rajasa di selatan.

(Petung mendapat tugas membuka lahan di selatan Ponorogo, tanah Rajasa/Rejoso - Pacitan Sumber: Ilustrasi GAI)

C. Babat Alas

Tersentuh oleh kemurnian tekad Raden Petung, Adipati Bathara Katong atas nasihat luhur Patih Seloaji menurunkan timbalan dalem—sebuah mandat kadipaten yang menitahkan perluasan wilayah ke arah selatan, menembus rintangan alam hingga batas ombak Samudera Kidul.

Guna menandai misi taktis yang memadukan kekuatan fisik, pertanian, dan batin tersebut, Raden Petung dianugerahi gelar baru yang menggetarkan: Kyai Siti Geseng, Sang Pembakar Lahan.

Maka mulailah perjalanan panjang menembus lereng-lereng terjal dan jurang-jurang curam bersama barisan keluarga, abdi, serta pengikut setianya. Langkah kaki rombongan tersebut akhirnya terhenti pada sebuah lembah subur di mana jaringan alur-alur sungai mengalir dengan melimpah.

Di sinilah patok mandala Rajasa ditegakkan. Di bawah kepemimpinan Raden Petung yang tangguh, hutan belantara yang liar mulai dibakar secara terukur, mengubah semak belukar berduri menjadi bentangan tanah agraris yang kaya akan unsur hara.

Titik pembukaan lahan pertama di sekitar aliran sungai itulah beliau memulai menggarap tarukan tanah Rajasa. Dari penitikan batas timur, perluasan wilayah terus berkembang ke arah barat, menyirnakan segala bentuk bahaya rimba hingga berbatasan dengan sungai besar.

D. Berjumpa Wong Kalang       

Di tengah pekatnya hutan rimba tersebut, beliau menjumpai sekelompok masyarakat tempatan. Mereka adalah Wong/Orang Kalang, kaum pinggiran yang hidup mengisolasi diri, selalu menjauh dari riuhnya peradaban dan selalu ketakutan pada dunia luar.

Mendekati mereka bukanlah perkara mudah. Pada mulanya, Wong Kalang selalu menjaga jarak dan memandang penuh curiga setiap kedatangan orang luar.

Namun, kewibawaan, kedermawanan, serta kelembutan hati Raden Petung yang mengayom perlahan meruntuhkan dinding pembatas tersebut. Rasa takut mereka luluh menjadi rasa hormat, hingga tak ada lagi yang bersembunyi di balik semak hutan dan pohon tua.

Di tanah inilah pembauran agung itu bermula. Melalui perjumpaan dan adaptasi yang panjang, perbedaan antara Wong Kalang dan masyarakat pendatang perlahan luntur.

Sekat-sekat kasta yang membedakan derajat manusia dilebur sepenuhnya dalam semangat kesetaraan. Tempat bertemunya dua kelompok yang kini hidup berdampingan dan saling berbaur tersebut abadi menjadi sebuah tlatah yang dinamakan tlatah Parambon—sebuah makna hidup tentang persatuan dan perlindungan dari seorang yang tulus mengayomi.

Di pusat wilayah baru yang subur ini, Raden Petung menetap sebagai pelindung fisik sekaligus penjaga spiritual yang disegani. Menggunakan gelar barunya sebagai Kiyai Ageng atau Pengulu, beliau menamai daerah tersebut Rejasa atau Rejoso, yang kelak akrab di lidah rakyat sebagai Ngrejoso.

(Raden Petung dibantu abdi dan Wong Kalang babat Wono Rejoso. Sumber: Ilustrasi GAI)

E. Kakuwuan Rejoso

Sementara Rejoso sibuk membentangkan persawahan di bawah naungan Ki Ageng Petung yang legendaris, bumi Kedaton Keling Daha di bawah kekuasaan Ranawijaya dan Patih Mahodara masih berdiri tegak penuh kecurigaan.

Selama kurun waktu puluhan tahun, Kadipaten Ponorogo berdiri kokoh sebagai perisai utama di bagian barat, membendung pengaruh politik Keling agar tidak menembus wilayah selatan.

Peran vital ini bertahan hingga tibanya masa penentuan pada tahun 1527 M. Pada saat itu, ekspedisi besar-besaran Kesultanan Demak datang bergemuruh, meruntuhkan sisa-sisa Majapahit Keling di Daha untuk selamanya.

Setelah Daha runtuh dan seluruh situasi di pedalaman Jawa dinyatakan aman, barulah ramalan kejayaan zaman di wilayah selatan mulai mewujud menjadi kenyataan.

Tlatah di luar mandala Rejoso tumbuh dengan sangat pesat, berkembang menjadi pakuwon-pakuwon mandiri yang makmur dan dipenuhi hasil bumi.

Melihat kemajuan peradaban agraris yang telah membentang sedemikian luas, Adipati Bathara Katong mengirimkan utusan tata praja, seorang jurunata resmi kerajaan. Melalui kehadiran sang jurunata, status Rejoso ditingkatkan secara resmi menjadi sebuah Kakuwuan berdaulat yang tetap berkiblat secara administratif pada Ponorogo.

Sejak saat itulah, Rejoso sebagai simbol persaudaraan agung Wangsa Rajasa dalam merawat kemakmuran kawula alit, kewajiban menghantarkan ulukbekti/bulubekti berupa hasil bumi terbaik mulai ditunaikan secara berkala ke Kadipaten Ponorogo sebagai representatif Trah Kertabhumi - Brawijaya V - Wilwatikta Majapahit – yang berpusat di Demak Bintoro.

(Noir X One)

(Perjalanan Raden Petung dari Ponorogo ke Pacitan. Sumber Ilustrasi GAI)

F. Ajaran Luhur Kebijaksanaan Ki Ageng Petung

Kisah pembukaan hutan Rejoso oleh Ki Ageng Petung mewariskan tiga nilai kebijaksanaan konkret yang berpijak langsung pada tindakan beliau:

  1. Filosofi Bambu Petung (Keteguhan Iman dan Fondasi Kokoh): Penancapan bambu petung sebagai penanda patok mandala melambangkan keteguhan prinsip hidup yang lurus dan kokoh. Sebagaimana bambu petung yang berakar dalam ke bumi, lentur menghadapi terpaan angin badai namun tidak patah, batin Raden Petung tetap lurus dibimbing cahaya iman yang kokoh demi menjaga kedaulatan wangsanya tanpa goyah oleh keserakahan.

  2. Filosofi Siti Geseng (Transformasi Positif yang Terukur): Gelar "Sang Pembakar Lahan" bukan tentang kerusakan, melainkan tentang pembaharuan hidup. Membakar masa lalu yang pahit, menghanguskan semak belukar berduri secara terukur mengajarkan bahwa sifat-sifat buruk, rintangan liar, dan ego dalam diri harus dilebur dengan matang demi menghasilkan abu penyubur yang mengubah tanah liar menjadi lahan subur kemakmuran bersama.

  3. Kepemimpinan Humanis yang Mengayom (Welas Asih): Saat berhadapan dengan kaum marjinal Wong Kalang, beliau tidak menggunakan  kedermawanan dan ketulusan rasa mengayom. Hal ini membuktikan bahwa persatuan sejati hanya bisa tegak ketika sekat kasta dilebur dalam semangat kesetaraan.

G. Glosarium Istilah:

  • Babat Alas: Membuka lahan hutan perawan untuk dijadikan pemukiman atau lahan pertanian.

  • Bulubekti / Ulukbekti: Upeti, pajak, atau persembahan tulus berupa hasil bumi terbaik dari wilayah bawahan kepada pemerintah pusat sebagai tanda bakti.

  • Dluwang: Kertas tradisional yang terbuat dari olahan serat kulit pohon waru atau melinjo.

  • Jurunata: Pejabat atau utusan resmi kerajaan yang bertugas mengatur tata praja dan urusan administratif pemerintahan.

  • Kakuwuan: Wilayah otonom setingkat kadukuhan atau pedesaan besar yang dipimpin oleh seorang Kuwu.

  • Laku Prihatin: Upaya spiritual dengan membatasi kesenangan duniawi (seperti berpuasa atau mengasingkan diri) demi mendekatkan diri kepada Gusti Allah dan mencapai tujuan luhur.

  • Mandala: Wilayah kekuasaan, pengaruh politik, atau pusat kegiatan spiritual keagamaan.

  • Nawala Dumawuh: Surat perintah tertulis atau titah resmi dari raja/penguasa kadipaten.

  • Pakuwon: Kompleks pemukiman atau wilayah hunian mandiri warga desa.

  • Pisowanan: Pertemuan agung saat bawahan atau rakyat menghadap penguasa kadipaten di pendopo.

  • Soko Guru: Tiang utama yang menyangga sebuah bangunan besar (seperti pendopo atau masjid).

  • Tarukan: Lahan baru hasil pembukaan hutan yang mulai digarap menjadi persawahan atau tegalan.

  • Timbalan Dalem: Mandat, titah, atau perintah resmi yang diturunkan oleh adipati atau raja.

  • Tlatah: Daerah, wilayah, atau kawasan geografi tertentu.

  • Trah / Wangsa: Silsilah garis keturunan atau keluarga besar bangsawan.

  • Wira: Ksatria, pahlawan, atau prajurit tangguh yang gagah berani.

RAHASIA BUAH MUNDU (Asal-usul Wonoayu dan Kedawung - Mentoro - Pacitan)

ASAL USUL DUSUN WONOAYU & KEDAWUNG (Dataran tepi sungai sebelah barat Pesantren Duduhan, abad 15) Oleh: Nurichwan  (Sejarah asal usul d...