Selasa, 16 Juni 2026

KI AGENG PETUNG - Babad Tanah Pacitan

KI AGENG PETUNG

Sumber: Babad Wana Rejoso (Periode Tahun 1478 – 1527 M)

Oleh: Nurichwan 

(Ilustrasi Ki Ageng Petung dalam perjalanannya Babat Alas di Wono Rejoso Pacitan. Sumber Ilustrasi GAI)

A. Trah Rajasa di Wengker 1478 M

Pada tahun yang dilingkupi duka, 1478 M, takdir tanah Jawa bergeser dengan begitu drastis. Raksasa agung Wilwatikta - kemaharajaan Majapahit, yang sekian abad memayungi Nusantara di bawah panji Wilwatikta, runtuh berkeping-keping akibat gelombang pergolakan paksa faksi Keling-Daha, Ranawijaya klan Girindrawardhana.

Seketika sirnalah kemegahan bumi Trowulan, menyisakan puing dan abu pembakaran yang membubung tinggi ke angkasa. Di tengah pemberontakan kuasa tersebut, para kesatria berdarah murni dari Wangsa Rajasa menolak untuk menyerah.

Mereka sebagian memilih jalan laku prihatin yang terhormat, berpencar menjaga nyala perjuangan di balik pekatnya belantara hutan Wengker. 

Di antara barisan trah luhur Rajasa yang memilih menempuh garis pertahanan tersebut, berdiri sosok Raden Petung.

Beliau adalah seorang wira perkasa yang menjaga martabat wangsanya di balik kesederhanaan hidup di pedalaman. Demi menghadapi benturan sengit melawan prajurit penguasa Keling Daha yang terus merangsek, Raden Petung melangkah gagah diantara barisan pertahanan.

Di bawah lindungan tajuk-tajuk pohon raksasa, sang kesatria tangguh merawat bara api Wangsa Rajasa yang mengalir deras dalam nadinya. Beliau bersama para pengikut setia menjadi benteng perlawanan yang kokoh.

Mereka mengolah tanah, mencucurkan keringat dan darah demi menjaga trah Rajasa dari kepunahan sejarah melalui jalan kesederhanaan.

(Pertahanan faksi Wilwatikta (Trowulan) dari gempuran prajurit Keling - Daha - Kediri. Sumber: Ilustrasi GAI)

Mengenai silsilahnya, terdapat dua versi besar yang melingkupi profil sang wira:

  • Versi Keturunan Jokodolog: Beliau bernama asli Raden Deleg. Dalam silsilah ini, posisinya setara dengan cucu Bhre Kertabhumi dari garis tersebut, namun selisih waktu membuatnya berusia lebih tua secara biologis daripada Adipati Betoro Katong (pendiri Ponorogo).
  • Versi Moyang Rajasa Lain: Beliau merupakan keturunan langsung dari leluhur Wangsa Rajasa melalui garis silsilah yang berbeda. Namun, versinya tetap menempatkan usia Raden Petung lebih tua daripada Betoro Katong.

B. Batara Katong 1496 M

Zaman yang berganti akhirnya menuntun fajar baru menyingsing di atas bumi Wengker. Datanglah seorang pangeran muda yang mengemban mandat suci dari pesisir utara, Raden Joko Piturun, yang dikenal di kalangan rakyat sebagai Raden Harak Kali.

Kedatangannya ini tidak dirancang untuk memicu peperangan terbuka secara langsung, melainkan sebuah misi taktis untuk mengambil alih dan mengonsolidasikan posisi pertahanan di wilayah barat dan selatan.

Sebab, jauh sebelum beliau tiba, para kesatria Rajasa dari faksi Trowulan telah mati-matian menjaga jengkal demi jengkal tanah Wengker dari cengkeraman mandala kotaraja Daha.

Melalui upacara sakral di atas Batu Gilang yang legendaris, Raden Joko Piturun dikukuhkan secara resmi sebagai penguasa baru dengan gelar agung Adipati Bathara Katong.

Peristiwa bersejarah ini bertepatan pada hari Ahad Pon, tanggal 1 Besar tahun 1418 Saka, atau tanggal 11 Agustus 1496 Masehi yang bertepatan pula dengan tanggal 1 Dzulhijjah 901 Hijriyah.

Mengingat usia sang adipati yang masih belia, Kesultanan Demak menyertakan dua pilar utama pengawal dinasti yang amat mumpuni untuk mendampinginya.

Pertama adalah Ki Ageng Patih Seloaji yang bertindak sebagai Waliraja senior untuk memimpin urusan pertahanan dan militer. Kedua adalah Ki Ageng Mirah selaku ulama luhur yang bergerak di garis dakwah melalui pendekatan akulturasi budaya yang harmonis dan luwes.

Di bawah bimbingan kearifan Waliraja Patih Seloaji, disadari sepenuhnya bahwa ketenteraman bumi Wengker tidak akan pernah bisa tegak jika hanya mengandalkan ketajaman pedang. Langkah pertama yang krusial adalah merangkul kembali saudara-saudara Trah Rajasa yang masih berserakan di hutan, telah lama bertahan dari gempuran Keling.

Dalam sebuah pisowanan yang dilangsungkan sesaat setelah pengukuhan Batu Gilang, Raden Petung melangkah masuk ke pelataran pendopo Ponorogo. Beliau menghadap sebagai wira perkasa yang gagah, bertubuh tegap, dengan sorot mata tajam yang memancarkan wibawa kesatria tanding yang tangguh. Kehadirannya disambut hangat oleh Patih Seloaji sebagai kerabat seagung.

Sebelum mengemban tugas berat di medan selatan, Raden Petung menetap sejenak di pusat kadipaten untuk berguru kepada Ki Ageng Mirah. Melalui kelembutan dakwah, beliau memperdalam hakikat iman dan syariat Islam.

Langkah ini sekaligus menjadi ujian kematangan batin dari sang ulama, memastikan bahwa pedang pusaka yang digenggam Raden Petung kini telah dibimbing oleh cahaya iman yang lurus seperti tongkat bambu petung. Sehingga konon, kedudukannya menjadi salah satu bagian dari empat puluh pembabat hutan Wana Rajasa di selatan.

(Petung mendapat tugas membuka lahan di selatan Ponorogo, tanah Rajasa/Rejoso - Pacitan Sumber: Ilustrasi GAI)

C. Babat Alas

Tersentuh oleh kemurnian tekad Raden Petung, Adipati Bathara Katong atas nasihat luhur Patih Seloaji menurunkan timbalan dalem—sebuah mandat kadipaten yang menitahkan perluasan wilayah ke arah selatan, menembus rintangan alam hingga batas ombak Samudera Kidul.

Guna menandai misi taktis yang memadukan kekuatan fisik, pertanian, dan batin tersebut, Raden Petung dianugerahi gelar baru yang menggetarkan: Kyai Siti Geseng, Sang Pembakar Lahan.

Maka mulailah perjalanan panjang menembus lereng-lereng terjal dan jurang-jurang curam bersama barisan keluarga, abdi, serta pengikut setianya. Langkah kaki rombongan tersebut akhirnya terhenti pada sebuah lembah subur di mana jaringan alur-alur sungai mengalir dengan melimpah.

Di sinilah patok mandala Rajasa ditegakkan. Di bawah kepemimpinan Raden Petung yang tangguh, hutan belantara yang liar mulai dibakar secara terukur, mengubah semak belukar berduri menjadi bentangan tanah agraris yang kaya akan unsur hara.

Titik pembukaan lahan pertama di sekitar aliran sungai itulah beliau memulai menggarap tarukan tanah Rajasa. Dari penitikan batas timur, perluasan wilayah terus berkembang ke arah barat, menyirnakan segala bentuk bahaya rimba hingga berbatasan dengan sungai besar.

D. Berjumpa Wong Kalang       

Di tengah pekatnya hutan rimba tersebut, beliau menjumpai sekelompok masyarakat tempatan. Mereka adalah Wong/Orang Kalang, kaum pinggiran yang hidup mengisolasi diri, selalu menjauh dari riuhnya peradaban dan selalu ketakutan pada dunia luar.

Mendekati mereka bukanlah perkara mudah. Pada mulanya, Wong Kalang selalu menjaga jarak dan memandang penuh curiga setiap kedatangan orang luar.

Namun, kewibawaan, kedermawanan, serta kelembutan hati Raden Petung yang mengayom perlahan meruntuhkan dinding pembatas tersebut. Rasa takut mereka luluh menjadi rasa hormat, hingga tak ada lagi yang bersembunyi di balik semak hutan dan pohon tua.

Di tanah inilah pembauran agung itu bermula. Melalui perjumpaan dan adaptasi yang panjang, perbedaan antara Wong Kalang dan masyarakat pendatang perlahan luntur.

Sekat-sekat kasta yang membedakan derajat manusia dilebur sepenuhnya dalam semangat kesetaraan. Tempat bertemunya dua kelompok yang kini hidup berdampingan dan saling berbaur tersebut abadi menjadi sebuah tlatah yang dinamakan tlatah Parambon—sebuah makna hidup tentang persatuan dan perlindungan dari seorang yang tulus mengayomi.

Di pusat wilayah baru yang subur ini, Raden Petung menetap sebagai pelindung fisik sekaligus penjaga spiritual yang disegani. Menggunakan gelar barunya sebagai Kiyai Ageng atau Pengulu, beliau menamai daerah tersebut Rejasa atau Rejoso, yang kelak akrab di lidah rakyat sebagai Ngrejoso.

(Raden Petung dibantu abdi dan Wong Kalang babat Wono Rejoso. Sumber: Ilustrasi GAI)

E. Kakuwuan Rejoso

Sementara Rejoso sibuk membentangkan persawahan di bawah naungan Ki Ageng Petung yang legendaris, bumi Kedaton Keling Daha di bawah kekuasaan Ranawijaya dan Patih Mahodara masih berdiri tegak penuh kecurigaan.

Selama kurun waktu puluhan tahun, Kadipaten Ponorogo berdiri kokoh sebagai perisai utama di bagian barat, membendung pengaruh politik Keling agar tidak menembus wilayah selatan.

Peran vital ini bertahan hingga tibanya masa penentuan pada tahun 1527 M. Pada saat itu, ekspedisi besar-besaran Kesultanan Demak datang bergemuruh, meruntuhkan sisa-sisa Majapahit Keling di Daha untuk selamanya.

Setelah Daha runtuh dan seluruh situasi di pedalaman Jawa dinyatakan aman, barulah ramalan kejayaan zaman di wilayah selatan mulai mewujud menjadi kenyataan.

Tlatah di luar mandala Rejoso tumbuh dengan sangat pesat, berkembang menjadi pakuwon-pakuwon mandiri yang makmur dan dipenuhi hasil bumi.

Melihat kemajuan peradaban agraris yang telah membentang sedemikian luas, Adipati Bathara Katong mengirimkan utusan tata praja, seorang jurunata resmi kerajaan. Melalui kehadiran sang jurunata, status Rejoso ditingkatkan secara resmi menjadi sebuah Kakuwuan berdaulat yang tetap berkiblat secara administratif pada Ponorogo.

Sejak saat itulah, Rejoso sebagai simbol persaudaraan agung Wangsa Rajasa dalam merawat kemakmuran kawula alit, kewajiban menghantarkan ulukbekti/bulubekti berupa hasil bumi terbaik mulai ditunaikan secara berkala ke Kadipaten Ponorogo sebagai representatif Trah Kertabhumi - Brawijaya V - Wilwatikta Majapahit – yang berpusat di Demak Bintoro.

(Noir X One)

(Perjalanan Raden Petung dari Ponorogo ke Pacitan. Sumber Ilustrasi GAI)

F. Ajaran Luhur Kebijaksanaan Ki Ageng Petung

Kisah pembukaan hutan Rejoso oleh Ki Ageng Petung mewariskan tiga nilai kebijaksanaan konkret yang berpijak langsung pada tindakan beliau:

  1. Filosofi Bambu Petung (Keteguhan Iman dan Fondasi Kokoh): Penancapan bambu petung sebagai penanda patok mandala melambangkan keteguhan prinsip hidup yang lurus dan kokoh. Sebagaimana bambu petung yang berakar dalam ke bumi, lentur menghadapi terpaan angin badai namun tidak patah, batin Raden Petung tetap lurus dibimbing cahaya iman yang kokoh demi menjaga kedaulatan wangsanya tanpa goyah oleh keserakahan.

  2. Filosofi Siti Geseng (Transformasi Positif yang Terukur): Gelar "Sang Pembakar Lahan" bukan tentang kerusakan, melainkan tentang pembaharuan hidup. Membakar masa lalu yang pahit, menghanguskan semak belukar berduri secara terukur mengajarkan bahwa sifat-sifat buruk, rintangan liar, dan ego dalam diri harus dilebur dengan matang demi menghasilkan abu penyubur yang mengubah tanah liar menjadi lahan subur kemakmuran bersama.

  3. Kepemimpinan Humanis yang Mengayom (Welas Asih): Saat berhadapan dengan kaum marjinal Wong Kalang, beliau tidak menggunakan  kedermawanan dan ketulusan rasa mengayom. Hal ini membuktikan bahwa persatuan sejati hanya bisa tegak ketika sekat kasta dilebur dalam semangat kesetaraan.

G. Glosarium Istilah:

  • Babat Alas: Membuka lahan hutan perawan untuk dijadikan pemukiman atau lahan pertanian.

  • Bulubekti / Ulukbekti: Upeti, pajak, atau persembahan tulus berupa hasil bumi terbaik dari wilayah bawahan kepada pemerintah pusat sebagai tanda bakti.

  • Dluwang: Kertas tradisional yang terbuat dari olahan serat kulit pohon waru atau melinjo.

  • Jurunata: Pejabat atau utusan resmi kerajaan yang bertugas mengatur tata praja dan urusan administratif pemerintahan.

  • Kakuwuan: Wilayah otonom setingkat kadukuhan atau pedesaan besar yang dipimpin oleh seorang Kuwu.

  • Laku Prihatin: Upaya spiritual dengan membatasi kesenangan duniawi (seperti berpuasa atau mengasingkan diri) demi mendekatkan diri kepada Gusti Allah dan mencapai tujuan luhur.

  • Mandala: Wilayah kekuasaan, pengaruh politik, atau pusat kegiatan spiritual keagamaan.

  • Nawala Dumawuh: Surat perintah tertulis atau titah resmi dari raja/penguasa kadipaten.

  • Pakuwon: Kompleks pemukiman atau wilayah hunian mandiri warga desa.

  • Pisowanan: Pertemuan agung saat bawahan atau rakyat menghadap penguasa kadipaten di pendopo.

  • Soko Guru: Tiang utama yang menyangga sebuah bangunan besar (seperti pendopo atau masjid).

  • Tarukan: Lahan baru hasil pembukaan hutan yang mulai digarap menjadi persawahan atau tegalan.

  • Timbalan Dalem: Mandat, titah, atau perintah resmi yang diturunkan oleh adipati atau raja.

  • Tlatah: Daerah, wilayah, atau kawasan geografi tertentu.

  • Trah / Wangsa: Silsilah garis keturunan atau keluarga besar bangsawan.

  • Wira: Ksatria, pahlawan, atau prajurit tangguh yang gagah berani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RAHASIA BUAH MUNDU (Asal-usul Wonoayu dan Kedawung - Mentoro - Pacitan)

ASAL USUL DUSUN WONOAYU & KEDAWUNG (Dataran tepi sungai sebelah barat Pesantren Duduhan, abad 15) Oleh: Nurichwan  (Sejarah asal usul d...