SYEH MAULANA MAGHRIBI
Oleh: Nurichwan
I. SENJAKALA MAJAPAHIT DAN CAHAYA DARI TIMUR
Senjakala Majapahit runtuh (1478 Masehi) akibat pembakaran kotaraja Trowulan oleh pasukan Keling pimpinan Ranawijaya Daha Kediri, menyisakan riak-riak perubahan di berbagai tempat di tanah Jawa. Saat eksodus pengungsi dan pelarian dari beragam kalangan dan kasta terjadi, bersamaan pula para tokoh babad alas mulai meluaskan pengaruh mandala Demak ke pedalaman selatan Wengker---yang kini kita kenal sebagai Pacitan. Di sanalah sejarah baru mulai ditulis.
Setelah babat Alas Rejoso berhasil dituntaskan oleh Ki Ageng Petung atas restu Betoro Katong sang Adipati Ponorogo, Syeh Maulana Maghribi diutus dari Demak menuju bumi Pacitan. Di sanalah beliau mendirikan Pesantren Duduhan, sebuah mercusuar iman di tengah lebatnya rimba selatan.
II. PERDIKAN DUDUHAN (1498--1500 Masehi)
A. Mandat Kudus dari Demak Bintoro
Matahari belum tinggi ketika Sultan Raden Patah duduk di atas singgasana Kesultanan Demak Bintoro. Sebagai penguasa, sepasang matanya menatap jauh ke cakrawala selatan Jawa---sebuah wilayah pedalaman yang masih diselimuti kabut takhayul dan hutan belantara. Di pundaknya, terpikul sebuah sumpah: merajut kembali tali persaudaraan sesama keturunan Prabu Brawijaya V dan Trah Rajasa lainnya yang tercerai-berai pasca-runtuhnya Majapahit, sekaligus menyalakan pelita iman hingga ke pelosok terjauh.
Demi menunaikan tugas suci itu, diutuslah seorang ulama arif dari negeri barat, Syeh Maulana Maghribi. Langkah kakinya membawa sang ulama menghadap Betoro Katong, sang Adipati Ponorogo yang agung.
Di pendopo kadipaten, Syeh Maulana Maghribi meletakkan sebuah kotak kendaga kayu berukir halus. Di dalamnya, terbaring selembar nawala dhumawuh---surat perintah resmi dari Sultan Demak.
"Kanjeng Sultan mengutus hamba untuk melakukan duduh, menuntun iman dan menyebarkan risalah di pedalaman selatan, Gusti Adipati," ucap Syeh Maulana Maghribi sembari menjura hormat.
Sang Adipati muda mengangguk-angguk takzim. "Di selatan, sudah ada yang babat alas. Ini adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk dibimbing keimanannya. Aku merestui langkahmu."
Seketika itu juga, sang Adipati memberikan tanda perizinan resmi. Sebuah cap Pradata dari lantakan logam kadipaten diketukkan di atas lembaran dluwang.
B. Paku Bumi Kecik Sari
Perjalanan pun dimulai. Syeh Maulana Maghribi berangkat membawa serta rombongan keluarga dan para pengikut setia dari Demak.
Medan yang mereka lalui tidaklah mudah. Rombongan itu harus naik turun gunung, mendaki tebing-tebing curam yang berbatu, dan menyusuri tepian sungai besar yang berarus deras. Gemercik air sungai dan lolongan satwa liar menjadi teman setia. Dua hari mereka berjalan menembus lebatnya hutan, hingga akhirnya mata mereka bertumpu pada sebuah pemandangan menakjubkan: sebuah lembah yang nampak rata, luas, dan subur di seberang sungai. Dengan hati-hati, seluruh rombongan menyeberangi aliran air tersebut.
Setibanya di tanah baru yang jauh dari pusat kerajaan itu, langkah pertama yang dilakukan adalah menandai wilayah. Karena memahat batu tenger atau prasasti membutuhkan waktu yang teramat lama, mereka membawa cara lain yang lebih mudah: bibit pohon Nogosari, atau yang kerap disebut kecik sari.
Pohon Nogosari ditanam oleh Syeh Maulana Maghribi bukan sekadar sebagai peneduh nantinya. Pohon itu adalah "paku bumi kecik sari"---sebuah penanda umum bagi para pendakwah keliling di masa depan bahwa titik tersebut adalah pusat perdikan baru yang sah di bawah naungan Kesultanan Demak.
C. Pertemuan Dua Kendaga di Rejoso
Langkah kaki Syeh Maulana Maghribi akhirnya menuntunnya bertemu dengan tetua wilayah tersebut, Ki Ageng Petung. Leluhur yang bersahaja itu menyambut sang ulama dengan kehangatan luar biasa.
"Selamat datang di daerah Rejoso," sambut Ki Ageng Petung tulus.
Namun, kejutan terjadi setelah Syeh Maulana Maghribi menyampaikan maksud kedatangan dan salam dari Demak. Mendengar penjelasan tersebut, Ki Ageng Petung tersenyum, lalu berbalik masuk ke kamarnya. Ia keluar membawa sebuah kendaga miliknya sendiri yang penampilannya jauh lebih tua, terbuat dari bilah Bambu Petung yang dikeringkan dengan sempurna.
Saat kotak bambu itu dibuka, Syeh Maulana Maghribi tertegun. Di dalamnya terdapat suprasasti resmi dari Adipati Katong. Sungguh tak salah dugaannya; Ki Ageng Petung bukan orang sembarangan. Ia adalah tokoh penting kadipaten yang memiliki urusan jangka panjang dalam mengamankan wilayah selatan.
Asal-usul tanda kekuasaan ini dihormati oleh kedua pihak. Sebagai perimbangan rasa hormat atas titah Kanjeng Sultan Demak yang dibawa Syeh Maulana Maghribi---yang bahkan telah dicap Pradata oleh Adipati---Ki Ageng Petung langsung menanyakan kabar keselamatan wilayah Wengker, Keling, dan Demak Bintoro.
D. Bendhe Parambon Dan Kyai Lebirah
Setelah menikmati hidangan bersama sebagai tanda persaudaraan, Ki Ageng Petung menabuh bendhe---tanda kumpul. Warga Rejoso dan para kuwu---kepala desa bersama warganya berbondong-bondong menuju Parambon, tempat musyawarah yang sakral (kelak disebut daerah Prambon).
Di hadapan khalayak yang menyemut, Syeh Maulana Maghribi berdiri dengan jubahnya yang bersahaja. Suaranya mengalun tenang namun berwibawa:
"Wahai saudaraku di Rejoso, ketahuilah bahwa Kadipaten Wengker kini telah berkembang pesat. Keling Daha masih mencengkeram kuasa, dan mahkota Majapahit kini terbelah kembar antara Demak Bintoro dan Kediri. Namun di tengah kemelut ini, Kesultanan Demak telah mengutus para Syeh dari tanah Maghrib. Kedatangan kami adalah untuk menggelar pedoman 'aji'---menjadi saka guru bagi pranatan baru kehidupan kita. Ini semua bukan demi melanggengkan kuasa darah biru keraton, melainkan demi menguatkan rakyat akar rumput."
Beliau berhenti sejenak, mengedarkan pandangan, lalu menjabarkan visi besarnya:
"Tujuan kami adalah menggelar sorban, membentangkan udheng kamodhangan---yakni hamparan pengetahuan---ke seluruh penjuru tanah Jawa. Ini adalah babak baru. Pengetahuan dan keimanan ini tidak boleh lagi hanya dipegang oleh para priyayi ningrat atau Gusti Trah Rajasa saja. Kebenaran ini adalah milik kawula sudra, bahkan kaum Kalang sekalipun. Sebab di hadapan Gusti Allah, derajat manusia adalah sama."
Beliau kemudian menunjuk ke arah pepohonan, menguraikan sebuah tatanan perlambang:
"Wit adokoh wohe adikih. Lihatlah pohon-pohon besar para penguasa itu. Mereka memang dibina takdir untuk menjadi pengayom, ibarat pohon beringin yang kokoh namun buahnya kecil dan pahit. Sebaliknya, wit adikih wohe adokoh. Itulah tugas agung para Kyai dan Guru: membangun rakyat jelata, merangkul wong cilik agar mereka mampu menghasilkan buah yang besar dan bermanfaat, seperti waluh, gembili, semangka, blewah, dan telo rambat."
Beliau mengakhiri petuah dengan senyum penuh harapan:
"Zaman telah berubah. Ojo nggresah. Tugas kita sekarang adalah memintarkan rakyat. Mereka yang dulunya sekadar diikat kepalanya tanpa arti, kini harus diudhengi---diberi kain kemuda kemodhang kepala kehormatan. Mengapa? Supaya mereka bersemangat untuk mudheng kawruh-berilmu, supaya mereka modang. Paham secara batin, dan padhang-terang dalam pikiran."
Mendengar seruan yang memanusiakan itu, gemuruh haru melanda Parambon. Pertemuan itu ditutup dengan ajakan untuk bersama-sama membangun sebuah tempat belajar---yakni perdikan atau pesantren.
E. Lahirnya Perdikan Duduhan
Sesuai kesepakatan, Ki Ageng Petung memerintahkan abdi-abdinya yang dipimpin oleh Kyai Lebirah---seorang kuwu sekaligus pemimpin kaum Kalang---untuk mulai menebang pohon hutan. Titik yang dipilih Syeh Maulana Maghribi tidak lain adalah lahan di sekitar bibit pohon Nogosari yang telah ia tanam tempo hari. Tempat itu kemudian dinamakan Duduhan, sebuah wilayah yang berada di bawah kamandalan Rejoso, berjarak sekitar 4 pal dari pusat Rejoso.
Saat itu, jumlah pakuwon belum banyak, hanya ada dua, menaungi beberapa kepala keluarga. Di kanan-kiri Rejoso membentang hutan lebat tempat bermukimnya kaum Kalang Wetan dan Kalang Kulon.
"Ampun, Kiai Guru, ampun Gusti Ki Ageng," jawab Kyai Lebirah dengan suara agak malu. "Para anak muda dari kaum kami sesungguhnya sangat ingin mereguk kawruh pengetahuan di sini. Namun, di dalam dada mereka tersimpan ketakutan yang teramat besar."
"Ketakutan apa lagi itu, Lebirah?" tanya Syeh Maulana Maghribi lembut.
"Ketakutan akan kelaparan, Kyai Guru. Seumur hidup, kaum kami hanya tahu cara berburu celeng (babi hutan) dan hewan liar dengan bantuan anjing di belantara, atau memetik buah asam yang jatuh. Jika kami menetap di sini untuk belajar di bawah naungan atap sirap kajang, siapakah yang akan mencari makan untuk anak istri kami di dalam dukuh? Menanam padi membutuhkan tanah basah yang luas dan waktu yang teramat lama, sedangkan perut kami tidak bisa menunggu."
Mendengar kekhawatiran yang teramat jujur itu, Ki Ageng Petung terdiam. Menetap dan belajar mengaji berarti mereka harus meletakkan parang berburu mereka, sebuah pilihan yang terasa mustahil bagi perut mereka yang lapar.
Syeh Maulana Maghribi tersenyum hangat. Beliau bangkit dari duduknya, mengambil sebatang ranting kering, lalu menorehkan gambar lingkaran bumi di atas tanah pelataran.
"Ketahuilah, Ki Ageng Petung, Lebirah, dan para santri sekalian," bisik sang Syeh, seraya menunjuk lingkaran yang dibuatnya. "Mata dan jantung dunia saat ini sedang berdetak kencang di bandar besar Kesultanan Demak Bintoro. Di sana, kapal-kapal jung raksasa dari mancanegara---Arab, Persia, Gujarat, hingga negeri Cina---bukan hanya membawa kain sutra dan cendana, melainkan membawa rahasia bumi yang baru. Mereka membawa bibit-bibit tanaman kebun yang belum pernah menyentuh tanah pedalaman Jawa: blewah yang ranum, semangka yang segar, kacang-kacangan, kentang, umbi-umbian, hingga jagung emas."
Beliau menjeda ucapannya, menatap tajam ke wajah Kyai Lebirah yang masih polos.
"Kita tidak akan berhenti di tanaman padi saja. Seluruh santri di sini akan diajari menanam dengan cara-cara baru. Mengapa? Karena kemandirian sejati adalah saat perut rakyat jelata tidak lagi dijajah oleh kelaparan. Jika lambung mereka tenang, maka akal dan hati mereka akan lapang untuk menyerap kawruh pengetahuan. Ketika rakyat jelata memiliki ilmu, tak lagi ada segala sekat kasta yang merendahkan. Di situlah terwujudnya kesetaraan sejati, manunggaling kawula kalawan gusti, di mana kedekatan hamba berilmu dengan Sang Pencipta menyatu, dan tiada lagi jurang pemisah antara penguasa dan rakyatnya."
Syeh Maulana Maghribi menegakkan punggungnya, menyapukan pandangan penuh harap kepada para pemuda Kalang yang mulai menegakkan wajah mereka.
"Tanaman kebun baru ini tumbuh dengan cepat dan tidak membutuhkan air melimpah seperti padi sawah. Kalian bisa menanamnya di sela-sela pekarangan rumah dan di lereng perbukitan hutan yang kering. Sebelum musim panen padi tiba, lambung kalian sudah akan dipenuhi oleh manisnya buah blewah, segarnya semangka, ubi, dan menguningnya tongkol jagung emas. Inilah langkah pertama kita, bertani secara swasembada---berdiri di atas kaki sendiri tanpa perlu cemas akan kelaparan, itulah fungsinya pesantren kita nanti."
Mendengar pemaparan rencana yang begitu agung dan menjawab langsung ketakutan terdalam mereka, runtuhlah keraguan di dalam dada Kyai Lebirah and para pemuda Kalang.
Kyai Lebirah yang terpikat dengan keluhuran ilmu sang Syeh, menghadap Ki Ageng Petung. "Gusti, hamba dan keluarga yang masih menetap di dalam hutan berniat untuk pindah dan menetap di Duduhan agar bisa berguru kepada Syeh Maghribi."
Izin diberikan. Kyai Lebirah segera mengutus anak buahnya masuk ke perbukitan barat dan timur untuk menjemput kaumnya yang hidup terpencil. Atas kemurahan hati Ki Ageng Petung yang mendermakan bahan pangan selama masa transisi, gotong royong akbar terjadi. Kaum Kalang dan warga berbaur menebang pohon, membuka lahan pertanian baru, membangun rumah, mendirikan masjid, serta kompleks pesantren yang sederhana.
(Ilustrasi Wong Kalang yang statusnya disamakan dengan priyayi bersama Ki Ageng Petung dan Syeh Maulana Maghribi. Sumber: Ilustrasi GAI)
Watu Kethu Sunan Gribig dari Wong Kalang (folklore): Ada cerita masyarakat Duduhan saking senangnya dengan udheng corak kemuda hadiah dari Demak, Kyai Lebirah sampai mengukir batu berbentuk bulatan kepala, yang kemudian dikenal namanya sebagai "Watu Kethu". Namun di tahun 1980-an batu itu sudah tak berada di tempatnya. Konon apabila ada yang membawa atau membuang, akan kembali lagi ke tempat semula-mitosnya.
F. Peradaban Santri Pertama di Bumi Pacitan, Santri Duduhan Dari Rejoso Dan Kalang
Di Duduhan, Syeh Maulana Maghribi tidak hanya menata batin para santrinya dengan iman, tetapi juga memperbarui peradaban hidup mereka melalui cara bertani yang baik (duduh).
Awalnya, Syeh Maulana Maghribi mencoba mengajarkan ilmu rubuk (astronomi menggunakan kuadran seperempat lingkaran) dari tanah Maghrib untuk membaca pergerakan bintang dan menentukan musim. Namun, warga pribumi kebingungan karena huruf dan angka-angkanya asing, terlalu rumit bagi mereka.
Melihat kesulitan itu, Syeh Maulana Maghribi tidak memaksakan kehendak. Bersama Kyai Lebirah yang rupanya sudah mahir membaca dan menulis aksara Kawi, sang Syeh merumuskan metode baru. Warga diajarkan aksara Pegon serta dua puluh aksara jawa baru---Hanacaraka dan Pegon yang disesuaikan---untuk menghafal sifat-sifat Gusti Allah.
Sementara untuk urusan perut, mereka memperbarui sistem Pranata Mangsa (penanggalan musim tanam). Ki Ageng Petung yang dulunya hanya menghafal dua musim, merasa sangat gembira melihat sistem baru yang jauh lebih akurat ini.
Karena alat rubuk terlalu sulit digunakan, warga menyiasatinya dengan membuat tatal---papan kayu datar yang diberi goresan garis siklus matahari yang sederhana. Dengan papan kayu buatan sendiri ini, setiap pakuwon kini bisa mandiri menentukan kapan waktu terbaik untuk menyebar benih dan kapan harus memanen.
"Swathani, sembodo tanbono kayu watu. Nama Duduhan ini abadi dari kata duduh jadi petani," ujar Syeh Maulana Maghribi suatu sore kepada Ki Ageng Petung. "Sebab dakwah keliling membutuhkan ketahanan pangan. Perjuangan kita adalah bertani secara swa thani---mandiri, beragama bukan dengan jalan meminta-minta atau menukarkan emas atau sesajen kepada kayu dan batu di tempat yang belum tentu memiliki pasar untuk ditukar ilmu dan berkah."
III. SANTRI SWATANI: BUKAN BEBAN
"Mengapa swatani, Kyai?" tanya Lebirah suatu malam di bawah pendar pelita minyak jarak.
Syeh Maulana Maghribi menatap keluar jendela, ke arah kegelapan hutan yang perlahan mulai diterangi obor-obor perumahan santri. "Sebab kita tidak ingin pesantren ini menjadi beban bagi tanah perdikan, tidak juga menjadi peminta-minta yang menukarkan doa dengan upeti. Santri Duduhan harus menjadi tangan di atas. Siang mencangkul bumi, malam menyalakan pelita suci. Tangan yang penuh lumpur di siang hari adalah tangan yang paling bersih saat menengadah berdoa di malam hari. Mereka adalah santri swatani---bukan beban, melainkan tiang penyangga bumi."
Inilah masa keemasan yang gilang-gemilang di tanah duduh. Menata rimba menjadi berkah. Santri Swatani-Swasembada-Mandiri.
Masa tatkala rimba raya mulai disibak, persawahan subur mulai dicetak, aliran sungai-sungai jernih mulai diberi nama, dan jalan setapak mulai dirajut membelah bukit pegunungan. Di bawah naungan atap kajang yang bersahaja, anak-anak mulai berkumpul dengan takzim untuk mengeja kitab suci. Sanak keluarga yang dahulu mendekam dalam ketakutan di pekatnya gunung kini mulai berani turun melintasi lembah, membangun pedukuhan-pedukuhan baru yang dipenuhi harapan hidup yang lebih baik.
Tidak ada alasan bagi mereka untuk berselisih paham atau bertengkar. Perlahan, para penjaga hutan yang dahulu berpindah-pindah kini mulai belajar menetap, menata pekarangan, dan membangun keluarga yang kukuh.
(Noir X One)
GLOSARIUM ISTILAH JAWA KUNO (BABAD DUDUHAN)
Berikut adalah daftar istilah tradisional Jawa yang digunakan dalam kisah Babad Duduhan beserta arti singkatnya untuk memudahkan pembaca:
Alas: Hutan belantara.
Babad / Babat: Membuka lahan hutan (babat alas), atau bisa berarti kisah sejarah/asal-usul suatu daerah.
Bendhe: Gong kecil bernada tinggi yang ditabuh untuk mengumpulkan warga atau memberi pengumuman.
Cantrik / Santri: Murid, santri, atau pengikut yang belajar di sebuah padepokan/pesantren tradisional.
Dluwang: Kertas kuno tradisional Jawa yang terbuat dari serat kulit pohon.
Duduh: Menunjukkan, menuntun, atau mengajari cara bertani (asal-usul nama Dusun Duduhan).
Kamandalan: Daerah bawahan atau wilayah pusat kegiatan sosial kemasyarakatan. Bentuknya seperti lingkar pengaruh/kekuasaan.
Kecik sari: Merujuk pada biji Nogosari.
Kendaga: Kotak peti kecil berukir untuk menyimpan surat berharga atau benda pusaka.
Kemuda: Corak batik kain untuk kepala, "kemudaan" melambangkan semangat, vitalitas, dan kreativitas bagi pemakainya.
Kemodhang/Modhang: motif klasik berbentuk lidah. Motif ini melambangkan sinar kehidupan, kewibawaan, dan keseimbangan dari empat unsur alam (angin, api, bumi, air).
Kuwu: Kepala desa atau pemimpin wilayah setingkat desa pada zaman dahulu.
Nawala dhumawuh: Surat titah atau perintah resmi tertulis dari raja/penguasa.
Pal: Satuan ukuran jarak kuno (1 pal berkisar antara 1,5 hingga 1,6 kilometer).
Pakuwon: Kompleks pemukiman sederhana atau wilayah hunian warga.
Pradata: Urusan hukum, pengadilan, atau cap resmi administratif pemerintahan kadipaten.
Pranata Mangsa: Aturan penanggalan musim tradisional Jawa untuk menentukan masa bercocok tanam.
Rubuk: Ilmu astronomi atau perbintangan kuno untuk membaca musim dan waktu. Perhitunga seperempat lingkaran, teknologi astronomi yang rumit namun presisi.
Aji: Dihormati, kehormatan.
Saka Guru: Tiang utama sebuah bangunan.
Sudra: Rakyat jelata atau golongan masyarakat rendah.
Swathani / Swa Thani / Swatani: Kemandirian bertani atau berdikari dalam hal pangan tanpa meminta-minta upeti.
Tatal: Sisa belahan kayu, dalam kisah ini dibuat menjadi papan datar penunjuk perhitungan hari dan pranata mangsa.
Tenger: Patok prasasti, penanda wilayah, atau prasasti tanda bukti kekuasaan.
Udeng / Diudhengi: Kain ikat kepala khas Jawa / diberi ikat kepala sebagai tanda penghormatan dan ilmu.
Wit adokoh woh adikih: Filosofi Jawa "pohon besar buahnya kecil", perlambang penguasa yang mengayomi tapi memberi sedikit manfaat nyata.
Wit adikih woh adokoh: Filosofi Jawa "pohon kecil buahnya besar", perlambang rakyat jelata atau guru yang bersahaja namun menghasilkan banyak manfaat berlimpah.
Wong Kalang: Kelompok masyarakat adat Jawa kuno yang terkenal sakti dan sangat ahli dalam mengelola perkayuan serta penataan hutan. Kelompok ini dulu sangat dipinggirkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar